TEKNOLOGI PENDIDIKAN KEDOKTERAN

Menuju Dokter Bintang Lima Berkarakter Pancasila

SELF DAN PEER ASSESSMENT SEBAGAI PENILAIAN FORMATIF DAN SUMATIF

Posted by zulharman pada Mei 29, 2007

Zulharman                                                                                                                                                                                   Mahasiswa S2 Ilmu Pendidikan Kedokteran   Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada                       PENDAHULUAN                                                                               

 Perubahan paradigma  pendidikan kedokteran dari teacher centre ke arah student centre tidak hanya  membawa dampak terhadap metode dan aktifitas belajar seperti penerapan Problem Based Learning (PBL), akan tetapi juga terhadap cara penilaian hasil belajar di fakultas kedokteran. Self assessment dan peer assessment merupakan cara penilaian hasil belajar yang berpusat pada pelajar. Metode penilaian  ini dapat diterapkan untuk menilai kemampuan kognitif maupun  kemampuan non kognitif  pelajar apabila dilihat dari kemampuan  yang ingin diuji dan dapat sebagai alat penilaian formatif dan sumatif apabila dilihat dari tujuan penilaian. Perdebatan metode ini digunakan sebagai alat penilaian meliputi masalah validitas dan reliabilitasnya sehingga  metode ini lebih sering  diterapkan sebagai penilaian formatif daripada sumatif.  Dalam tulisan ini, penulis akan mencoba memaparkan kemungkinan penerapan self assessment dan peer assessment di institusi penulis.1 

ISI

Self assessment  menurut Boud (1991) adalah keterlibatan pelajar dalam mengidentifikasi kriteria atau standar untuk diterapkan dalam belajar dan membuat keputusan mengenai pencapaian kriteria dan standar tesebut. Dengan kata lain Self  assessment adalah sebuah proses dimana pelajar memiliki tanggung jawab untuk menilai hasil belajarnya sendiri. Sedangkan peer assessment adalah sebuah proses di mana seorang pelajar menilai hasil belajar teman atau pelajar lainnya yang berada se-level. Maksud dari se-level adalah jika dua orang atau lebih berada dalam level kelas yang sama atau subjek pelajaran yang sama. Self dan peer assessment dapat digunakan untuk menilai kemampuan klinik yang meliputi dimensi kognitif (clinical management) dan dimensi humanistic ( psychological). 2, 3, 4, 5Self assessment dapat digunakan untuk membantu pelajar dalam mengembangkan kemampuan menilai dan mengkritisi proses dan hasil belajarnya (penilaian formatif), membantu pelajar menentukan kriteria untuk menilai hasil belajarnya, dan sebagai syarat yang diperlukan dalam sebuah proses pembelajaran untuk memutuskan kelulusan (sumatif assessment). Peer assessment dapat digunakan untuk membantu pelajar dalam mengembangkan kemampuan bekerjasama, mengkritisi proses dan hasil belajar orang lain (penilaian formatif), menerima feedback atau kritik dari orang lain, memberikan pengertian yang mendalam kepada para siswa tentang kriteria yang digunakan untuk menilai proses dan hasil belajar dan untuk penilaian sumatif. Brown, Rust and Gibbs (1994), Zariski (1996), Race (1998) menjelaskan keuntungan dari  self dan peer assessment yaitu, mendorong pelajar untuk  memiliki rasa tanggung jawab terhadap proses belajarnya sehingga pelajar dapat mandiri, melatih evaluation skill yang berguna untuk life long learning dan mendorong deep learning. 1, 3, 4, 6Proses peer assessment  yaitu dimulai dengan mendiskusikan item dan kriteria penilaian oleh dosen dan para mahasiswa. Kemudian masing-masing mahasiswa menilai teman mereka yang telah ditunjuk dan juga memberikan feedback. Hasil penilaian ini biasanya dicocokkan dengan hasil penilaian dosen. Apabila selisih nilai penilaian peer kurang dari 10 % maka penilaian ini dapat diterima. Sedangkan proses self assessment yaitu dimulai dengan menetapkan  item dan kriteria yang akan dinilai. Kemudian mahasiswa menilai secara sendiri. Kemudian dosen memberikan feedback terhadap penilaian mahasiswa tersebut. 7 Penerapan self assesment  & peer assesment sebagai  penilaian formatif Bhola (1990) mendefinisikan penilaian formatif adalah sebuah metode untuk menilai sebuah program yang masih berjalan dan fokus kepada proses. Penggunaan peer assessment untuk formatif bertujuan untuk memberikan feedback yang berasal dari peer. Banyak bukti penelitian menunjukkan bahwa peer assessment mendukung pelajar untuk memberikan feedback kepada pelajar lain dan juga belajar menerima feedback dari pelajar lain. 1, 3, 4, 6, 8

Penulis telah mengidentifikasi beberapa aktifitas penerapan self dan peer assessment yang mungkin diterapkan di institusi penulis sebagai penilaian formatif. Penggunaan self dan peer assessment secara sendiri-sendiri  ataupun kombinasi antara keduanya dapat dilakukan untuk penilaian formatif. Kombinasi penggunaan self assessment dan peer assessment untuk penilaian formatif akan lebih meningkatkan efektifitas penilaian. 

  1.             Logs Book         

 Logs Book adalah salah satu bentuk learning journal yang digunakan dalam proses pembelajaran.
Para mahasiswa diminta untuk  menggambarkan kembali tentang pengalaman belajar yang telah mereka alami berupa kelebihan, kekurangan dan seberapa jauh hasil yang telah dicapai. Logs book ini dapat mendorong mahasiswa untuk menyadari dan merefleksikan pengalaman belajar yang telah mereka jalani atau merupakan self assessment atas kemajuan proses belajar mahasiswa tersebut.           Pada akhir dua skenario PBL (setelah dua minggu) mahasiswa diminta menggumpulkan logs book mereka kepada Dosen atau Tutor yang akan memberikan feedback. Sebelum dikumpul, mahasiswa diminta untuk melakukan peer assesment untuk saling mendiskusikan dan memberi feedback  terhadap isi  logs book yang telah mereka tulis. Hasil penilaian teman berupa feedback ditulis dalam halaman yang telah disediakan. Selanjutnya logs book dikumpulkan kepada dosen. Dosen akan menuliskan feedback pada halaman yang telah disediakan di dalam logs book. 1

2.             Self dan peer assessment terhadap catatan kuliah.       

   Setiap mahasiswa menulis sebuah catatan mengenai kuliah yang baru mereka dapatkan. Lalu masing-masing mahasiswa saling menukarkan hasil catatan kuliah mereka dan saling memberikan feedback mengenai catatan kuliah yang telah dibuat. Sebelumnya kriteria penilaian untuk menilai harus ditentukan dahulu secara jelas. Contohnya kesesuaian catatan kuliah yang dibuat dengan learning objectives. 1

3.    Self dan peer assessment di laboratorium ketrampilan klinik        

  Contoh penerapan self dan peer assessment sebagai formatif di laboratorium ketrampilan klinik yaitu pada kegiatan ketrampilan memasang IV line. Mahasiswa dan instruktur/dosen mendiskusikan item-item ketrampilan memasang IV line dan kriteria penilaian untuk masing-masing item. Penetapan kriteria penilaian ini harus jelas sehingga tidak menimbulkan perbedaan penafsiran. Penggunaan skala rating dapat membantu kriteria penilaian menjadi lebih objektif dan jelas. Misalnya 0=tidak dilakukan, 1=dilakukan tetapi salah, 2=dilakukan tetapi kurang sempurna, 3=dilakukan dengan sempurna. Kemudian hasil diskusi ini dibuat dalam bentuk form penilaian ketrampilan klinik. Masing-masing mahasiswa diberikan lembar penilaian ini. Mahasiswa akan diberi satu sesi dimana instruktur akan mendemonstrasikan cara memasang IV line secara benar. 1, 2         

   Sebelum waktu latihan mandiri masing-masing mahasiswa diminta melakukan self assesment terhadap ketrampilan yang telah mereka pelajari sebelumnya dengan mengisi form ketrampilan klinik. Hasil self assessment ini jangan diberitahukan dahulu kepada teman yang akan memberikan peer assessment sebelum peer assessment dilakukan. Peer assessment dilakukan oleh peer dengan mengamati ketrampilan yang dilakukan oleh seorang mahasiswa dan menilainya ke dalam form yang sama dengan form self assessment. Penggunaan double blind atau anonim tidak dimungkinkan dalam kegiatan ini. Oleh karena itu untuk meningkatkan reliabilitas maka penilaian ini lebih baik dilakukan oleh dua orang peer review. Setelah hasil peer assessment didapat maka hasil ini dibandingkan dengan hasil self assessment. Perbedaan dari kedua hasil ini akan didiskusikan sehingga peer dapat memberikan feedback yang dapat digunakan untuk meningkatkan ketrampilan mahasiswa tersebut. 1, 2  

        Peer assessment ini juga bisa diterapkan di OSCE, khususnya bertujuan sebagai formatif agar mahasiswa memiliki kesiapan dan konfiden untuk menghadapi OSCE sumatif. Contohnya OSCE akan dilakukan pada akhir semester dengan keterlibatan 3 blok yang terdiri dari blok cardiovaskuler, blok respirasi dan blok gastrointestinal. OSCE ini terdiri dari 10 station dengan waktu tiap station 7 menit. Persiapan dan pelatihan mengenai tata cara pelaksanaan self assessment dan peer assessment yang akan diterapkan dilakukan dua hari sebelum OSCE formatif. Penentuan mahasiswa yang akan menjadi observer bagi mahasiswa lain ditentukan pada saat akan OSCE untuk menghindari subjektifitas. Semua alat/manekin dan standar pasien sudah dipersiapkan. Sebelum OSCE formatif ini, para mahasiswa diminta untuk melakukan self assessment mengenai ketrampilan yang diujikan dalam 10 station tersebut dengan cara mengisi lembar checklist ketrampilan yang akan diujikan. Ketika hari OSCE maka mahasiswa yang ditentukan sebagai observer diminta menempati station yang telah ditetapkan masing-masing. Kemudian OSCE akan dimulai, dan setelah semua mahasiswa telah melalui OSCE maka lembar peer assessment dikumpulkan dan lalu diserahkan kepada masing-masing yang memiliki. hasil peer assessment didapat maka hasil ini dibandingkan dengan hasil self assessment. Perbedaan dari kedua hasil ini akan didiskusikan sehingga peer dapat memberikan feedback sehingga dapat digunakan untuk meningkatkan ketrampilan mahasiswa tersebut. Manfaat yang didapat dari kegiatan ini yaitu melatih ketrampilan self assessment dan peer assessment mahasiswa, tersedianya feedback yang berguna untuk meningkatkan ketrampilan mahasiswa tersebut dan membuat mahasiswa lebih percaya diri dalam menghadapi OSCE sumatif. 1, 2 4.     

        Self dan peer assessment untuk menilai professional behaviour       

   Self dan peer assessment dapat juga digunakan untuk menilai professional behaviour. Metode ini dapat merupakan salah satu komponen penilaian professional behavior dengan sistem 360 derajat. Dalam penerapan metode ini diperlukan kriteria atau ukuran-ukuran dari professional behavior yang akan dinilai ditentukan secara jelas agar hasil penilaian objektif. Metode ini dapat diterapkan untuk penilaian professional behavior dalam kontek diskusi tutorial atau kontek yang lebih luas lagi. Prinsip anonym dalam peer assessment perlu diterapkan agar objektif dan menghindari sesitifitas. Penggunaan lembaran penilaian dengan skala penilaian akan lebih meningkatkan reliabilitas dan objektifitas penilaian.Self assesment  & peer assesment sebagai  penilaian sumatif       

    Penerapan self & peer assessment sebagai penilaian sumatif banyak menimbulkan perdebatan mengenai validitas dan reliabilitasnya. Orpen (1982) menemukan bahwa tidak ada perbedaan antara penilaian oleh instruktur dengan penilaian oleh peer. Arnold et al. (1981) melaporkan bahwa peer assessment di pendidikan dokter memiliki validitas dan reliabilitas yang baik.  Boud (1995) melaporkan bahwa dari penelitian –penelitian mengenai peer assessment yang ia analisa, 17 penelitian melaporkan bahwa pelajar menilai lebih tinggi daripada guru dan 12 penelitian melaporkan bahwa pelajar menilai lebih rendah daripada penilaian guru. 2, 9, 10, 11            Berdasarkan pendapat para pakar di atas yang masih memiliki perdebatan mengenai validitas dan reliabilitas self & peer assessment, maka penulis berpendapat bahwa penerapan metode ini belum dapat dilaksanakan di institusi penulis. Hal ini juga ditunjang dengan berbagai hambatan yang terdapat dalam penerapan metode ini ,yaitu sikap pelajar/mahasiswa yang masih memandang penilaian merupakan tugas dosen, kepercayaan diri pelajar yang masih kurang untuk melakukan self assesment  & peer assessment dan ketidakmengertian pelajar terhadap kriteria penilaian. Oleh karena itu  ada empat langkah dalam perencanaan dan penerapan  self dan peer assessment agar efektif yaitu : 1

1.      Penyampaian maksud dan tujuan peer assessment kepada semua partisipan yang terlibat, baik mahasiswa yang akan dinilai maupun mahasiswa yang menjadi penilai. Oleh karena bentuk penilaian ini masih baru, maka peer assessment ini diterapkan secara bertahap, dengan menggunakan anonym, diterapkan pada low stake setting seperti untuk penilaian formative dan buatlah sistem penilaian ini semudah dan sesederhana mungkin. Hal yang sama juga dilakukan untuk self assessment.

2.      Kriteria penilaian harus dikembangkan dan disampaikan kepada partisipan. Kriteria ini meliputi berapa banyak partisipan yang terlibat, karakteristik partisipan, komponen kompotensi apakah yang akan dinilai, kapan penilaian akan dilaksanakan, dan juga metode pengambilan data (checklist, rating form, scoring key). Penggunaan criterion standart sangat sesuai sehingga kriteria standar penilaian jelas dan mudah dipahami.

3.      Pelatihan perlu dilakukan untuk semua partisipan. Pelatihan yang intensif perlu dilakukan untuk para mahasiswa yang pertama kali menghadapi sitem penilaian ini dan apabila para mahasiswa telah melewati beberapa kali sistem penilaian ini maka pelatihan tidak perlu intensif. Pelatihan ini mencakup pelatihan mengenai penentuan kriteria penilaian (criterion reference test) dan pelatihan cara memberikan feedback yang efektif.4.      Hasil penilaian  perlu dimonitor, apakah hasil penilaian dari self, peer dan instruktur sudah memiliki kesamaan. Hal ini perlu untuk mengidentifikasi hal-hal yang dapat menyebabkan perbedaan hasil penilaian oleh self, peer dan instruktur sehingga nantinya dapat diperbaiki atau dihindari. Metode diskusi dapat dilakukan untuk mencari penyebab perbedaan hasil penilaian oleh self, peer dan instruktur. 12, 13, 14 

 KESIMPULAN         

    Penggunaan self dan peer assessment secara sendiri-sendiri  ataupun kombinasi antara keduanya dapat dilakukan untuk penilaian formatif dan penilaian sumatif. Penggunaan metode penilaian ini untuk formatif ditujukan untuk memperoleh feedback bagi peserta didik sehingga dapat meningkatkan proses dan hasil belajar. Penerapan metode ini untuk  penilaian sumatif dalam memutuskan kelulusan seorang peserta didik terhadap suatu kemampuan masih banyak perdebatan mengenai validitas dan reabilitasnya sehingga sulit untuk diterapkan.Penerapan self dan peer assessment agar efektif maka perlu dilakukan langkah-langkah yaitu  penyampaian maksud dan tujuan self dan peer assessment secara jelas, penjelasan kriteria penilaian yang jelas, pelatihan yang intensif dan memonitor proses dan hasil penilaian dari self dan peer assessment tersebut. Penerapan  self assessment dan peer assessment secara bertahap, dengan menggunakan anonym, diterapkan pada low stake setting seperti untuk penilaian formative dan sistem penilaian yang dibuat semudah dan sesederhana mungkin merupakan langkah-langkah untuk memulai metode penilaian ini agar dapat diterima oleh  para pendidik dan peserta didik.  DAFTAR PUSTAKA1.         Quen’s university
Belfast (2005). Peer and Self Assessment. [Internet]. Available from:               < http://www.qub.ac.uk/directorates/AcademicStudentAffairs/CentreforEducational Development/Resources/PeerandSelfAssessment/> [Accessed 12 May 2007].

2.        Boud, D. (1995) . Enhancing Learning through Self Assessment,
London: Kogan Page

3.         Isaacs , G. (1999). Brief briefing: Peer and self assessment. [Internet]. Available from:         < http://www.tedi.uq.edu.au/conferences/A_conf/papers/Isaacs.html >                           [Accessed 12 May 2007]. 

4.         Bostock, S. (2000). Student peer assessment. [Internet]. Available from: < http://www. keele.ac.uk/depts/aa/landt/lt/docs/bostock_peer_assessment.htm>  [Accessed 12 May 2007].  5.        Dannefer, EF., Henson, CH.,  Bierer, SB., et all. (2005) Peer assessment of professional competence. Medical Education 39,pp. 713–722.

 6.         Ma, X and Millman, R. (2005). Using Self-Assessment and Peer Assessment. [Internet]. Available from: < http://www.nctm.org/news/content.aspx?id=616&gt; [Accessed 12 May 2007].  7.         Griffith university  (2002). Guidelines for group assessment, self assessment and peer assessment. [Internet]. Available from: < http://www62.gu.edu.au/policylibrary.nsf/ alldocscat/ d1f7f88b504ec9a14a256bde006320eb?opendocument > [Accessed 12 May 2007]. 

8.          Amin Z, Eng KH. Basics in Medical Education.
Singapore: World Scientific Publishing, 2003.9.        Mattheos,N,.  Nattestad,A.,  Nilsson, EF.,  & Attstro¨m1,R. (2004) The interactive examination: assessing students’ self-assessment ability. Medical Education 38, pp. 378–38910.    Weiss, Pm., Koller, Ca., Hess, Lw., Wasser, T. (2005) How do medical student self-assessments compare with their final clerkship grades? Medical Teacher, Vol. 27, No. 5,    pp. 445–44911. 

   Langendyk, V. (2006) Not knowing that they do not know: self-assessment accuracy of third-year medical students. Medical Education 40, pp.  173–17912.    Hanrahan, SJ. (2001). Assessing Self- and Peer-assessment: the students’ views. Higher Education Research & Development, Vol. 20, No. 1, pp. 53-70. 13.   
Arnold, L., Shue, CK., Kritt, B., Ginsburg, S., Stern, D. (2003). Medical Students’ Views on Peer Assessment of Professionalism. J Gen Intern Med 2005; 20:819–824. 
14.    Norcini, JJ. (2003). Peer Assessment of Competence. Medical Education 37,pp. 539-543. 

About these ads

23 Tanggapan to “SELF DAN PEER ASSESSMENT SEBAGAI PENILAIAN FORMATIF DAN SUMATIF”

  1. Iyas said

    hanya saja sayang pak, untuk diterapkan sepertinya masih terlalu susah sebab penilainan ini akan lebih subjektifitas, apalagi anak muda kalau sudah tidak suka sama temannya malah saling menjatuhkan. jatuh-jatuhnya jadi eror. maap kalo salah yach pak….
    salam kenal

  2. zulharman said

    Terimakasih atas komentarnya Pak Iyas. Saya setuju dengan komentar bapak. Penerapan peer assessment ini banyak menemui kendala terutama adanya sikap saling menjatuhkan yang ada pada mahasiswa. Penerapan metode penilaian ini saya sarankan hanya sebagai formatif saja yaitu agar sesama mahasiswa dapat menilai kemampuan mereka masing-masing dan teman mereka ,sehingga didapatkan respon/feedback sebagai bahan peningkatan diri. Formatif tes ini tidak dimasukan sebagai nilai ujian di khs.

  3. maher said

    Assalamuaialkum.
    saya akan coba teliti masalah ini pada anak didik saya pada tingkat smp kls VII, mudah-mudahan cocok, dan berhasil…
    thq Mr Zul
    Wassalam
    Maher Choiri

  4. zulharman said

    @ Maher Choiri

    Wa’allaikum salam W.W
    Ditunggu hasil penelitiannya ya Pak Maher.
    Wassalam

  5. sudaryanto said

    Perbedaan logbook dan portfolio ternyata pada proses refleksi.
    Logbook merupakan kumpulan pekerjaan, sedngkan portfolio melibatkan proses refleksi yang dapat digunakan untuk belajar.

  6. zulharman said

    @ Sudaryanto
    Terimakasih pak tambahan informasinya.
    Perbedaan log book dengan portfolio menurut yang saya baca yaitu ada dua.
    pertama proses refleksinya, dimana portfolio menekankan pada proses refleksi
    kedua proses penentuan tujuan belajar. portfolio tujuan belajarnya disusun oleh pelajar sedangkan log book masih didominasi oleh institusi.

  7. A Eka Putra said

    sedikit pendapat saya mengenai self dan peer assesment dok,
    1. Teknik ini juga bermanfaat untuk cross check penilaian oleh tutor
    2. masalah bias penilaian, sangat tergantung pada sugesti dan pemahaman yang diberikan tutor serta karakteristik anonymous yang ditonjolkan
    3. Kebetulan saya pernah menyusun bahan daftar penilaian untuk peer asesment, kalau untuk self sih belum, karena pada dasarnya relatif sulit. Masalah lain yang juga perlu diperhatikan adalah teknik kita untuk eleborasi
    4. Disamping logbook, kita juga perlu memikirkan perlunya notulen tutorial ditulis dengan lengkap, siapa yang bicara, apa yang dikatakan, dan lain sebagainya
    5. Bagaimana pendapat dokter dengan peer assesment diperluas, artinya melibatkan tutor
    6. Saya berfikir, teknik ini sebaiknya dilakukan setiap pertemuan, apakah itu tutorial atau labskills

    Pada akhirnya, saya menyadari bahwa metoda ini sebenarnya untuk menjamin dan menilai proses yang dijalani oleh mahasiswa apakah sudah sesuai dengan yang digariskan atau tidak serta untuk penilaian behavior mahasiswa (saya mengisitilahkan sebagai ‘attitude’)

  8. zulharman said

    @ A Eka Putra
    Terimakasih atas pendapatnya.
    Untuk peer assessment tidak dapat melibatkan tutor karena yang dimaksud peer disini harus se level atau sejajar posisinya.
    Ya prinsip self dan peer assessment ini memang perlu diterapkan sedini mungkin karena besoknya para dokter setelah lulus akan menghadapi yang namanya Continous profesional development atau PPPKB (pendidikan dan pelatihan profesional kedokteran berkelanjutan) yang metode assessment ini akan dipakai dalam practice based learning.

  9. ata said

    Salam. Pak, Zul, Saya mahasiswa S1 Pendidikan IPA.UNY, dan berniat menulis skripsi tentang “penerapan model self & peer assesment dalam pembelajaran dan dampaknya bagi perkembangan partisipasi siswa dalam proses PBM itu”. Saya mau tanya, Pak, kira-kira model “self-peer assesment” ini lebih tepat diterapkan bagi siswa jenjang SMP atau SMA ya Pak? Mohon, pencerahannya. Oya, jika Pak Zul memiliki artikel lain dan atau edisi cetak (buku) yang membahas tentang self&peer assesment, Saya mohon dengan hormat bahwa bapak berkenan memberikan info artikel atau info dimana Saya bisa memperoleh buku tersebut–via e-mail Saya ini: sulisstyawanatalanta@yahoo.com.
    Sebelumnya, maturnuwun..Terimakasih. [Saya juga di Jogja, Pak, Jadi, untuk keperluan ini, kalau boleh tau, alamat rumah/kontrakan Bapak, di daerah mana ya?] Salam.

  10. angga said

    bagaimana jika peta konsep sebagai penilaian formatif?

  11. zulharman said

    @Angga
    Saya belum jelas maksud dari peta konsep? mungkin dapat diperjelas pertanyaannya Mas Angga. Terimakasih

  12. yenny said

    senang sekali membaca tulisan bapak, kebetulan saya sedang menulis disertasi tentang model authentic assessment di sekolah dasar, yang memuat tentang self dan peer . Saya mohon dengan hormat bapak berkenan memberikan info tentang jurnal maupun buku- buku yang membahas tentang authentic assessment for learning, dimana saya bisa memperolehnya.
    trim atas kesediaan bapak.

  13. fauzi said

    I’m so curious in getting information about the use of peer tutoring in teaching English. in this time I haven’t got satisfying answer for my wish. so I need complete responses. thanks.

  14. ira said

    Ass…
    Pak sya mau tanya apa perbedaan antara self assessment dengan self report????
    apakah penggunaan instrumen untuk penelitian bisa dipakai?//
    artikel Bapak sangat membantu saya daslam mengerjakan skripsi…
    skripsi sya tentang pengembangan dan validasi skala sikap…
    Mohon penjelasannya Pak…
    terima kasih…

  15. kunjungan balasan di tunggu. ^_^

  16. arief said

    aslmkm…
    bpk..kbrulan penelitian sy mengenai peer assestment…
    tp sy masih bingung menganai instrumen mengneai hal tersebeut…bpk ada journal at artikel mengnai peer g???trims…
    tlong irimkan ke arie_one21@yahoo.com

  17. Jaenal said

    Saya memerlukan buku Enhancing Learning through Self Assessment sebagai buku sumber untuk penulisan tesis saya. Bgm cara memperolehnya. Bisakah anda membantu?

  18. meta izwandi said

    Tq bnyak y pak Zul, ini udah membantu

  19. ada buku H.DOUGLAS BROWN berjudul ASSESSMENT LANGUAGE. dihalaman 270 dijelaskan pengertian self dan peer assessment beserta teknik dan metodenya. silahkan dibaca.

  20. hermina Rosalina said

    tulisan bpk sangat membantu dalam penulisan tesis sy, sy sedang mencoba untuk menerapkan metode self dan peer assessment untuk menilai kerja perawat klinik di rumah sakit (tatanan nyata,).
    terimakasih.

  21. Sem said

    Pak mau nanya nih… Bagaimana sih penerapan self assessment ini dalam pendidikan pak? dan seperti apa konsepnya?
    klo berkenan bapak bisa kirimkan jawabannya ke simataraja.theeye@gmail.com
    terimakasih pak

  22. Anonymous said

    Apakah peer assessment sebaiknya digunakan untuk menilai kinerja siswa/kegiatan praktikum saja?

  23. Anonymous said

    pak saya mahasiswa tingkat akhir yg sedang menyusun tugas akhir. saya mau bertanya apa indikator siswa/mahasiswa dikatakan sudah dapat melakukan self dan peer assessment ?

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 25 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: