TEKNOLOGI PENDIDIKAN KEDOKTERAN

Menuju Dokter Bintang Lima

Arsip untuk ‘Problem Based Learning’ Kategori

Problem Based Learning

Laboratorium ketrampilan medik juga ngak ketinggalan di upgrade

Ditulis oleh zulharman di/pada Desember 25, 2008

modd1_fullscreenSumber :   http://lane.stanford.edu/graphics/images_spaces/fullscreen/modd1_fullscreen.jpg

Ditulis dalam Learning Resources Development, Problem Based Learning | 2 Komentar »

Ruang kuliah juga harus direformasi menjadi lecture theatre

Ditulis oleh zulharman di/pada Desember 25, 2008

Metode kuliah juga masih ada dalam KBK. Fungsi kuliah dapat sebagai overview, kuliah klarifikasi, kuliah pakar.

Nah supaya nyaman , ruang kuliah harus seperti ini.6111

Gambar ini juga saya ambil dari      http://www.une.edu.au/rural-medicine/photogallery.php

Selamat buat FK yang sudah seperti ini

Ditulis dalam Learning Resources Development, Problem Based Learning | 1 Komentar »

Ruang Tutorial PBL : Perlu direformasi

Ditulis oleh zulharman di/pada Desember 25, 2008

Saya mencoba berselancar untuk mencari ruang tutorial PBL yang oke punya.
Alasannya mengapa ruang tutorial PBL harus mantap karena dominannya pendekatan tutorial PBL dalam kurikulum KBK sehingga dengan suasana ruang tutorial yang nyaman akan mendukung proses belajar.

4513pbl

Gambar ini saya ambil dari      http://www.une.edu.au/rural-medicine/photogallery.php

Kapan ya kita bisa seperti ini? Atau Apakah ruang tutorial PBL di FK Anda sudah seperti ini?

Ditulis dalam Learning Resources Development, Problem Based Learning | Leave a Comment »

Best Evidence Medical Education (BEME),Pendidikan Kedokteran berbasis bukti

Ditulis oleh zulharman di/pada Desember 24, 2008

Apakah   Best Evidence Medical Education (BEME) ?

“Best Evidence Medical Education (BEME) is the implementation, by teachers in their practice, of methods and approaches to education based on the best evidence available.” (Harden, 1999)

Pendidikan Kedokteran berbasis bukti adalah penerapan  pendekatan dan metode  pembelajaran oleh pengajar dalam proses pendidikan kedokteran berdasarkan bukti-bukti ilmiah terbaik yang ada.

Mengapa harus BEME?

Perlunya perubahan paradigma pengembangan  pendidikan kedokteran dari berbasis opini ke arah berbasis bukti-bukti penelitian di bidang pendidikan kedokteran. Hal ini didasari karena selama ini pengembangan  pendidikan kedokteran lebih banyak berdasarkan opini atau retorika.Dengan BEME maka dalam penerapan suatu metode pembelajaran dapat dipertanggungjawabkan baik secara ilmiah maupun empiris.

Konsep BEME?

Dalam BEME, Institusi atau pengajar akan menerapkan pendekatan dan metode  pembelajaran  berdasarkan bukti-bukti penelitian  ilmiah terbaik yang ada.

Ada 6 hal untuk menilai  Evidence yang disingkat dengan QUESTS :

1. Quality : Bagaimana kualitas dari evidence tersebut?

2. Utility : Apakah sebuah metode yang akan diterapkan tersebut dapat diambil tanpa modifikasi?

3. Extent: Bagaimanakah ketersediaan dari evidencetersebut?

4. Strength:Bagaimana kekuatan evidence tersebut?

5. Target: Apakah tujuan? Apakah dapat diukur? Valid?

6. Setting: Bagaimanakah situasi atau kontek ? Relevansi?

Oleh karena  banyaknya hambatan dalam melakukan penelitian-penelitian pendidikan yang ada seperti kompleknya masalah, faktor-faktor lain yang mempengaruhi hasil penelitian, sulitnya memberi perlakuan kontrol dan blind maka dalam menilai bukti-bukti penelitian ini diperlukan profesional judgment dari Pengajar sehingga pengabungan profesional jugment ini dengan bukti-bukti penelitian yang ada akan menghasilkan sebuah keputusan yang sesuai dengan situasi ditempat masing-masing.

Kesimpulan

BEME akan membantu para Pengajar di  pendidikan kedokteran untuk membuat keputusan yang profesional,bertanggungjawab dan ilmiah dalam penerapan suatu metode atau intervensi pembelajaran berdasarkan bukti-bukti penelitian  ilmiah terbaik yang ada.

Referensi

Harden R M, Grant J, Buckley G and Hart I R (1999) BEME Guide No 1: Best Evidence

Medical Education. Medical Teacher 21, 6, pp 553-562

http://www.medev.ac.uk/resources/features/AMEE_summaries/BEME1.pdf.

Ditulis dalam Problem Based Learning, Quality assurance, Research, Teaching and Learning Development | Leave a Comment »

Membuat skenario untuk PBL

Ditulis oleh zulharman di/pada Agustus 20, 2008

Skenario dalam Problem based learning merupakan inti dari suksesnya kegiatan PBL. Hal ini karena skenario merupakan titik tolak proses pembelajaran. Skenario dapat disajikan dalam bentuk teks atau dalam bentuk video. Skenario yang baik adalah skenario yang dapat mengakomodasi semua tujuan pembelajaran modul, singkat dan jelas, memacu keingintahuan lebih dalam dan sesuai realita yang akan dihadapi dokter sehari-hari.

Internet sebagai gudang informasi dapat kita jadikan rujukan untuk membuat skenario.

Untuk mengembangkan skenario berbasis teks yang nyata , dapat kita gunakan pertanyaan – pertanyaan yang ada di forum-forum diskusi kesehatan.

Misalnya : Kita ambil dari www.iwandarmansjah.web.id dan http://cakmoki86.wordpress.com/tanya-jawab/

Nah untuk skenario berbasis audio video mungkin kita dapat mencarinya di http://www.youtube.com/

Tentunya sumber-sumber di atas masih perlu diedit agar sesuai tujuan pembelajaran. Tapi yang pasti skenario ini benar-benar real dan akan ditemui oleh dokter umum ketika praktek.

Viva Medica

Ditulis dalam Curriculum Development, Problem Based Learning, Teaching and Learning Development | 2 Komentar »

RENCANA PROGRAM PENGEMBANGAN STAF EDUKASI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU DALAM RANGKA PELAKSANAAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (2)

Ditulis oleh zulharman di/pada Maret 6, 2008

Catatan : Ini adalah lanjutan tulisan saya yang pertama tentang staff development. Berhubungan mungkin diusulkan maka tetap menggunakan FK Unri sebagai nama FK. Format dalam PDF, InsyaAllah menyusul.

Zulharman

Mahasiswa S2 Ilmu Pendidikan Kedokteran FK UGM

PENDAHULUAN

Penerapan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dengan strategi pendekatan problem based learning (PBL) merupakan sebuah inovasi pendidikan kedokteran yang sedang dikembangkan di Indonesia. Fakultas kedokteran universitas Riau (FK Unri) telah memulai menerapkan kurikulum ini pada tahun ajaran 2007. Sumber daya manusia khususnya staf edukasi merupakan salah satu komponen utama dalam penerapan kurikulum ini, dimana peran dan tugas mereka ada yang mengalami perubahan sedikit atau bahkan perubahan total. Oleh karena itu, agar penerapan kurikulum baru ini berjalan lancar maka diperlukan pelatihan dan pengembangan staf.

ISI

Untuk mengetahui kebutuhan pengembangan staf yang diperlukan dalam penerapan KBK maka dilakukan analisa kebutuhan (need assessment) dengan cara identifikasi peran yang dibutuhkan untuk pelaksanaan KBK (telah diidentifikasi di assignment week 1). Pendekatan pengelompokkan peran berdasarkan peran dosen dalam pengembangan kurikulum, pengembangan teaching & learning, pengembangan learning resources, pengembangan assessment serta operasional kegiatan dalam situasi di skill laboratorium, Blok (PBL), laboratorium Biomedis dan rotasi klinik (clinical rotation) dilakukan untuk memudahkan proses identifikasi. Setelah peran-peran ini diidentifikasi, maka selanjutnya disusunlah rencana pengembangan staf ini melalui beberapa metode sebagai berikut :

1. Workshop

Workshop merupakan bentuk pengembangan staf yang paling sering diterapkan. Workshop dilaksanakan selama antara dua sampai tiga hari. Workshop ini akan disampaikan melalui format kuliah didaktif, role play,working group, presentasi, diskusi interaktif serta refleksi.

2. Self directed learning

Metode ini adalah metode belajar mandiri, dimana kegiatan berawal dari tanggung jawab seorang staf untuk meningkatkan kompetensinya sehingga ia akan menyusun kebutuhan belajarnya, menentukan tujuan, menentukan sumber belajar dan menilai hasil belajarnya sendiri. Self reflection, evaluasi dari pelajar dan peer feedback merupakan komponen utama yang akan mendorong seseorang untuk meningkatkan kompetensinya. Metode ini akan berhubungan erat dengan E-learning dan work based learning.

3. Elektronik learning (e-learning)

Penggunaan teknologi informasi sebagai sumber belajar dalam metode SDL ini akan menambah efektifitas dan efisiensi. Teknologi informasi yang akan diterapkan untuk mendukung SDL yaitu Course management system (CMS) / sistem manajemen kursus dan computer based training.

a. Course management system adalah sebuah software yang mampu memanajemen proses pembelajaran/kursus online seperti menyimpan, mengelola dan mendistribusikan berbagai informasi pelatihan seperti material pelatihan, jadwal pelatihan mandiri, self assessment . Course management system yang akan diterapkan di FK Unri untuk faculty development adalah CMS yang bersifat free atau tidak diperlukan dana untuk membeli software CMS tersebut. Moodle merupakan contoh CMS gratis yang dapat dipakai. Selain gratis dan dapat dimodifikasi, Moodle mudah dipelajari dan mudah digunakan. Moodle telah teruji di berbagai institusi di banyak negara. Moodle digunakan di 150.000 institusi pada 160 negara dan telah diterjemahkan ke dalam 70 bahasa. Contoh pemakaian course management system sebagai alat pengembangan staf/SDM yaitu, PT. Garuda Indonesia Airways, Bank mandiri, merpati, Bank BNI.

b. Computer based training adalah penggunaan komputer sebagai media pelatihan. Untuk membedakan dengan CMS di atas, penulis memfokuskan yang dimaksud dengan CBT ini adalah penggunaan CD Interaktif dalam pelatihan secara mandiri. Dalam CD interaktif ini peserta pelatihan akan dibimbing secara tahap demi tahap dalam melatih suatu kompetensi tertentu. Sistematis dan runtutnya CD interaktif dalam memberikan arahan kepada peserta pelatihan memberikan keuntungan dalam mendukung SDL.

4. Magang

Metode magang dilaksanakan dengan menggirim staf edukasi ke institusi pendidikan kedokteran yang telah mapan dalam bidang tertentu.

5. Work Based Learning

Work based learning, adalah suatu metode atau proses belajar yang berhubungan dengan pekerjaan yang dijalani seseorang. Dalam kontek pekerjaan staf edukasi, work based learning merupakan suatu proses pembelajaran yang berdasarkan pengalaman praktek staf edukasi sehari-hari. Metode ini sangat sesuai dengan lingkungan pembelajaran staf edukasi di mana terdapat integrasi pembelajaran antara praktek dan teori serta staf edukasi dapat belajar sesuai kebutuhan mereka di tempat kerja. Prinsip pembelajaran ini adalah refleksi dan peningkatan. Portfolio digunakan sebagai format dan dokumentasi pembelajaran.

6. Mentorship

Mentorship merupakan metode yang sering ditemukan dalam pengembangan staf sehari-hari, namun penulis menemukan bahwa istilah mentorship ini masih jarang digunakan secara ekplisit. Seorang mentor dapat berperan sebagai role model, sponsor, guide, teacher, adviser, coach. Daloz (1986) memaparkan bahwa ada tiga elemen kunci dalam model mentorship yaitu support, challenge dan vision untuk pengembangan karir ke depan.

7. Formal Education.

Formal Education yang dimaksud disini adalah pendidikan dalam bidang ilmu pendidikan kedokteran (S2 Ilmu pendidikan kedokteran). Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Problem Based Learning, Staff Development | 9 Komentar »

Dari Belajar Berdasarkan Masalah Menuju Pembentukkan Kompetensi

Ditulis oleh zulharman di/pada Februari 23, 2008

Zulharman

Melanjuti artikel saya sebelumnya tentang belajar berdasarkan masalah, maka sekarang saya ingin menghubungkan nih metode belajar dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Kenapa sih menerapkan kurikulum berbasis kompetensi enaknya dengan metode belajar berdasarkan masalah ini atau problem based learning (PBL).

Seperti yang Harden katakan dalam model SPICES kurikulumnya(lihat), belajar berdasarkan masalah merupakan poin penting dalam pembentukkan kompetensi selain huruf-huruf lainnya. Coba bayangkan seorang dokter mestinya akan menemui masalah kesehatan yang harus dipecahkan. Seorang tukang insinyur komputer akan mengalami masalah komputer nantinya. Seorang ahli pertanian akan mengalami masalah pertanian nantinya. Nantinya dimaksud disini kalo ia bekerja sesuai bidangnya.

Contoh kasus ; Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Problem Based Learning | 13 Komentar »

Hidup sudah banyak masalah, kok nambah masalah, makanya belajar berdasarkan masalah….:)

Ditulis oleh zulharman di/pada Februari 22, 2008

Zulharman

 

Wah ternyata hidup banyak masalah. Katanya sih kalau ngak punya masalah itu orang yang udah mati. Apa iya ya soalnya saya belum pernah mati sih. Tapi yang jelas menurut ajaran agama yang saya anut walaupun kita udah mati masih dan banyak sekali masalah yang dihadapi.

Masalah selalu menghampiri setiap detik demi detik. Mau makan aja masalah soalnya uang makan belum dapat. Mau mandi masalah soalnya airnya kotor karena banjir. Belum lagi kalo udah punya satu bini, dua bini, anak dan sebagainya tambah lagi deh masalah. Sekali lagi hidup penuh masalah.

Nah mungkin dari kata-kata di ataslah maka mungkin Barrow dan Henck Scmidth melahirkan metode belajar yang bernama Problem based Learning (PBL) yang kalo diartikan belajar berdasarkan masalah atau ada juga yang mengartikan belajar bertolak dari masalah. Nanti kalo ada kesempatan saya komfirmasi sama beliau. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Problem Based Learning | 3 Komentar »

Mengapa harus Problem based Learning?

Ditulis oleh zulharman di/pada Februari 20, 2008

Penerapan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dengan strategi pendekatan problem based learning (PBL) merupakan sebuah inovasi pendidikan kedokteran yang sedang dikembangkan di Indonesia. Banyak institusi pendidikan yang mengeluhkan penerapan PBL karena memerlukan dana yang besar, sumber daya manusia yang banyak dan manajemen yang komplek. Sebenarnya mengapa sih harus PBL? Penulis juga lama merenunginya tentang latarbelakang PBL dan kelebihannya. Di sini penulis mencoba menganalisanya.

1. Teori yang melandasi PBL ditunjang oleh beberapa teori psikologi pendidikan yang terkenal. Misalnya, Albanese mengungkapkan teori yang melatarbelakangi PBL yaitu information processing theory, cooperative learning theories, self determination theory and control theory (Albanese, 2000). Contoh untuk teori information processing terdiri dari tiga komponen yaitu aktivasi prior knowledge, encoding specificity dan elaboration of knowledge. (Albanese 2000, Schmidt, 1983). Dalam PBL tiga komponen ini dapat dilihat dari kasus yang dapat mengaktifkan prior knowled pelajar, kasus juga berdasarkan situasi nyata yang membuat belajar menjadi kontektual, elaboration yang dapat dilihat dari proses diskusi.

2. Kelebihan PBL : Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Problem Based Learning | Bertanda: , , , , , | 7 Komentar »

PENDAHULUAN : PROBLEM BASED LEARNING

Ditulis oleh zulharman di/pada Februari 15, 2008

zulharman

Problem Based Learning (PBL) ternyata memiliki daya tarik. Setelah beberapa lama saya memposting mengenai PBL di blog ini banyak tanggapan dari para pengunjung. Saya minta maaf kalau posting PBLnya singkat (soalnya lagi sibuk) dan menjawab comment dari pengunjung mungkin tidak memuaskan. Saya akan mencoba untuk memposting mengenai PBL ini dimulai dari pendahuluan yang akan menjelaskan prinsip dasar tentang PBL. InsyaAllah selanjutnya tentang cara merancang PBL dan terakhir cara mengevaluasi PBL. Mengikuti perkembangan comment tentang PBL di blog ini (terimakasih atas commentnya), saya ingin mencoba menyimpulkan hal-hal yang perlu atau sering ditanyakan.

1. PBL Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Problem Based Learning, Teaching and Learning Development | 6 Komentar »