MENGOPTIMALKAN BED SIDE TEACHING MELALUI PENERAPAN THE FIVE STEPS MICROSKILL MODEL

Zulharman
Mahasiswa S2 Ilmu Pendidikan Kedokteran
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

PENDAHULUAN

Pengajaran dan pembelajaran di kontek klinik (rumah sakit) merupakan hal yang sangat menentukan kualitas hasil lulusan dokter. Ironisnya dalam praktek pendidikan klinik ini banyak sekali hambatannya, seperti kasus penyakit yang terbatas dan dosen klinik yang waktunya terbatas untuk mengajar mahasiswa. Oleh karena itu, maka perlu suatu solusi untuk memecahkan kendala tersebut.1, 2

The Five Steps Microskill sebagai sebuah model pengajaran di pendidikan klinik merupakan suatu solusi yang bisa diterapkan untuk mengoptimalkan pengajaran dan pembelajaran di klinik dengan keterbatasan waktu. Model The Five Steps Microskill ini dirancang oleh Neher dan kawan-kawan yang dimuat dalam Journal of the American Board of Family Practice. Model ini dapat diterapkan dengan waktu yang terbatas dalam pendidikan klinik baik di klinik rawat jalan maupun di bangsal.  1, 2

DASAR TEORI

Para pakar pendidikan klinik memberikan sebuah panduan dalam pengajaran dan pembelajaran dalam pendidikan klinik yang dikenal “BEDSIDE”. BEDSIDE merupakan singkatan dari Briefing, Expectation, Demonstrations, Spesific Feedback, Inclution microskill, Debriefing and Education. BEDSIDE ini dikembangkan dari teori experience and explanation cycles yang dikemukakankan oleh Cox, 1993. Briefing meliputi kegiatan menyiapkan mahasiswa Koas tentang syarat pengetahuan yang harus dimiliki sebelum BST dan juga mempersiapkan pasien untuk BST. Expectation adalah menentukan tujuan belajar yang ingin dicapai oleh mahasiswa. Demonstrations tergantung tujuan yang ingin dicapai yaitu bila dosen ingin mengamati dan memberi feedback atas kegiatan mahasiswa maka dosen harus meminimalkan interupsi dan bila tujuannya sebagai model maka mahasiswa diberi kesempatan mengamati dosen dalam memeriksa pasien. Spesific Feedback diawali dengan positif aspek sehingga akan memotivasi mahasiswa untuk belajar. Inclution microskill merupakan kemampuan yang harus dimiliki oleh dosen klinik sehingga BST menjadi efektif dan efisien. Debriefing meliputi menanyakan masukan dari mahasiswa dan pasien. Education meliputi memberitahu sumber belajar yang digunakan mahasiswa belajar lebih lanjut dan dalam. 3, 4

Neher, Gordon, Meyer dan Stevens mengemukakan sebuah model pengajaran di kontek klinik yang mereka beri nama The Five Steps Microskill. Model ini dapat diterapkan dalam pendidikan klinik di unit rawat jalan (poliklinik) dan di bangsal. Penerapan model ini di pendidikan klinik rawat jalan sangat efektif karena dengan waktu yang sangat terbatas (3-5 menit), Preceptor dapat mengajarkan pengetahuan dan ketrampilan klinik dengan menggunakan pasien yang sebenarnya. Model ini juga dapat diterapkan pada BST di bangsal. Seperti yang sudah diketahui , bangsal ditempati oleh pasien dengan bermacam kasus penyakit. Contohnya Jumlah pasien di Bangsal penyakit saraf pada waktu penulis mengamati ada sekitar dua puluh pasien dengan bermacam variasi penyakit. Apabila model ini diterapkan pada 20 orang pasien maka di butuhkan waktu sekitar 60 menit sampai 100 menit yang mana masih dalam rentang waktu BST yang selama ini telah diterapkan. Penerapan model ini tentu saja menguntungkan dalam pendidikan klinik selain dapat mengatasi keterbatasan waktu juga dapat mengajarkan pendidikan klinik secara efektif. 5 , 6
Langkah-langkah dalam model The Five Steps Microskill adalah sebagai berikut : 1, 2, 5, 6

Step 1. Tanyakan Komitmen mahasiswa
Petunjuk : Setelah mahasiswa mempresentasikan sebuah kasus, ia akan menunggu respon dari dosen atau bertanya mengenai petunjuk untuk kasus ini.
Preceptor : Preceptor meminta mahasiswa untuk menyatakan masalah yang ada dalam kasus yang dipresentasikan dapat dalam bentuk hipotesis diagnosis atau rencana manajemen pengobatan.
Rasional : Meminta mahasiswa untuk menginterpretasikan data merupakan langkah awal dalam menentukan kebutuhan belajar mereka dan prior knowledge yang telah mereka miliki. Contoh :
“Apa diagnosis pasien ini?”

Step 2. Mengali bukti-bukti yang mendukung
Petunjuk : Ketika mendiskusikan suatu kasus, mahasiswa memiliki komitmen terhadap masalah yang dikemukakan dan menantikan respon dosen untuk mengkonfirmasikan pendapat mereka.
Preceptor : Sebelum memberikan arahan , mintalah mahasiswa untuk memberikan bukti yang mendukung pendapat mahasiswa tersebut.
Rasional : Mintalah mahasiswa untuk mengungkapkan proses berpikir mereka sehingga dosen dapat mengidentifikasi apa yang mahasiswa tahu dan yang belum tahu.
Contoh :
“Penemuan utama apa yang mendasari diagnosis anda?”

Step 3. Katakan apa yang mahasiswa sudah lakukan dengan benar
Petunjuk : Pelajar telah menangani suatu kasus secara sangat efektif yang hasilnya membantu preceptor, pasien atau rumah sakit. Mahasiswa tidak menyadari bahwa yang telah dilakukannya efektif dan memiliki dampak yang positif.
Preceptor : Berilah komentar kepada mahasiswa bahwa ia sudah melakukan hal yang benar dan membawa dampak positif.
Contoh :
“Anda telah mempertimbangkan kemampuan pasien dalam memilih obat. Kepekaan Anda telah membantu pasien dalam mengatasi masalahnya”

Step 4. Perbaiki yang masih salah
Petunjuk : Pekerjaan mahasiswa telah mempertunjukkan kekeliruan , kesalahan atau penyimpangan.
Preceptor : Segera mungkin setelah kekeliruan, temukan waktu dan tempat yang sesuai untuk mendiskusikan apa yang salah dan bagaimana cara menghindari atau mengoreksi kesalahan di masa datang. Pertama kali berilah kesempatan pelajar untuk mengkritik hasil kerja mereka.
Rasional : kesalahan mahasiswa yang tidak diberitahu oleh preceptor akan memiliki kesempatan untuk diulangi. Dengan mendiskusikan apa yang salah pada hasil kerja mahasiswa akan menghindari kesalahan ini di masa yang akan dating.
Contoh :
“Anda benar bahwa gejala yang ada mengarah kepada infeksi saluran napas bagian atas karena virus. Tetapi anda tidak bisa memastikan bahwa ia bukan otitis media sebelum Anda melakukan pemeriksaan fisik pada telinga pasien”

5. Mengajarkan konsep/kaidah umum
Petunjuk : Preceptor memastikan bahwa ia mengetahui seputar kasus yang dipresentasikan mahasiswa.
Preceptor : Ajarkan prinsip umum, konsep.
Rasional : Instruksi lebih mudah diingat dan diterima bila diberi dalam bentuk kaidah umum, prinsip atau perumpamaan.
Contoh :
“Jika pasien baru mengalami selulitis, insisi dan drainase belum bisa dilakukan. Anda harus menunggu sampai daerahnya menjadi fluktuasi sehingga bisa di drainase.”

Irby et al membandingkan model The Five Steps Microskill dengan model tradisional dalam pendidikan klinik menemukan bahwa model The Five Steps Microskill memperlihatkan adanya penekanan pada kebutuhan belajar mahasiswa dan partisipasi mereka dalam menentukan keputusan masalah klinik yang mana hal-hal ini sangat kurang atau bahkan tidak terlihat dalam pendidikan klinik dengan model tradisional. Penelitian dosen klinik di Aagard mengidentifikasi beberapa faktor yang mempengaruhi model ini efektif dalam pendidikan klinik, yaitu :

  • Dosen klinik lebih percaya diri dalam mengevaluasi mahasiswa.
  • Dosen klinik mampu meningkatkan kemandirian belajar mahasiswa.
  • Dosen klinik mampu memberikan feedback yang berkualitas.

KESIMPULAN

The Five Steps Microskill merupakan salah satu model pendidikan klinik yang terdiri dari beberapa langkah yaitu tanyakan komitmen mahasiswa, menggali bukti-bukti yang mendukung, katakan apa yang mahasiswa sudah lakukan dengan benar, perbaiki yang masih salah dan mengajarkan konsep/kaidah umum. Model ini menekankan tidak hanya pada proses pengajaran pengetahuan dan ketrampilan klinik oleh Preceptor tetapi juga menekankan pada pentingnya mengidentifikasi prior knowledge mahasiswa, memberikan kesempatan untuk membuat keputusan sendiri, melatih clinical reasoning, pentingnya constructive feedback dan mendiagnosis kebutuhan belajar mahasiswa. Model ini dapat diterapkan dalam lingkungan pendidikan klinik di rawat jalan dan bangsal yang membutuhkan waktu antara 3-5 menit untuk satu kasus. Oleh karena itu penerapan model ini di pendidikan klinik merupakan suatu model pendidikan klinik yang sangat potensial untuk diterapkan khususnya pada setting pendidikan klinik dengan keterbatasan waktu.

DAFTAR PUSTAKA
Irby, D. (1999). Five Microskills for Clinical Teaching. [Internet]. Available from: <> [Accessed 30 March 2007].
Amin Z, Eng KH. Basics in Medical Education. Singapore: World Scientific Publishing, 2003.
Dent JA, Harden RM, Editors. A Practical Guide For Medical Teachers. Elsevier Churchill Livingstone, 2006.

http://www.ucimc.netouch.com .Bedside Teaching. [Internet]. Available from: <http://www.ucimc.netouch.com/inventory/group/residents/6/best%20curriculum%20bedside%20teaching.pdf.> [Accessed 30 March 2007]

Raskind, HS. (2001) The One-Minute Preceptor. [Internet]. Available from: < articleid=”98″> [Accessed 30 March 2007].

Sarkin, R. The One Minute Preceptor Microskills of Clinical Teaching. [Internet] .Available from: < http://www.im.org/facdev/gimfd/ProjectMaterial/MeetingPresentFiles/
Strategies%20Tampa%20Sarkin.htm> [Accessed 30 March 2007].

Polotsky, H & Metalios, E. Teaching Teachers To Teach. [Internet]. Available from: < http://www.aecom.yu.edu/home/GME/TEACHING_sylllabus.doc.> [Accessed 30 March 2007].

Parrott, S., Dobbie, A et al. (2006) Evidence-based Of.ce Teaching—The Five-step
Microskills Model of Clinical Teaching. [Internet] March, 2006 38 (3). Available from: < http://www.stfm.org/fmhub/fm2006/March/Sarah164.pdf.> [Accessed 30 March 2007].

Bensinger, L., Meah, Y.,Simon, T. Teaching Skills For Residents. [Internet]. Available from: <http://www.ucimc.netouch.com/Others/MountSinai/Handout%20for%20Residents%20RTDP.pdf.> [Accessed 30 March 2007

9 thoughts on “MENGOPTIMALKAN BED SIDE TEACHING MELALUI PENERAPAN THE FIVE STEPS MICROSKILL MODEL

  1. Assalamualikum, dok
    saya mahasiswa S2 BPK FK UGM angkatan 2008 dari FK UNJANI. Pernah ketemu di perpus, waktu presentasi thesis. Artikel2-nya sangat bermanfaat untuk assignment. he..he.. terutama alamat website-nya. Mau tanya, dok kalo di semester 2 gimana cara mencari ‘ide’ thesis? apa sudah diarahkan dari fakultas? atau kita cari sendiri?
    Makasih, dok.

  2. pagi, dok … mohon ijin untuk mengaplikasikan dalam pendidikan profesi keperawatan. kelihatannya ada beberapa hal yang bisa kami gunakan. tq

  3. @Agus S. SKp

    Pagi, Pak Agus, silahkan untuk diaplikasikan semoga dapat mengoptimalkan proses pembelajaran di pendidikan profesi keperawatan. Terimakasih atas kunjungannya.

  4. Malam dr.zul … maaf mohon izin tulisan ini sebagai salah satu sumber penerapan bimbingan mhs keperawatan oleh Clinical Instruktur di RS.

  5. selamat pagi dr.Zul. saya maria alummus BPK FK UGM 2010, artikel-artikel nya sangat bermanfaat bagi saya untuk mengembangkan/ mengubah paradigma PBM di institusi saya, oiya dr, Zul, saya menenrapkan atau mengunakan model bedside ini pada pembelajaran klinik di keperawatan,

  6. assallam……
    amazing banget dokter,, boleh dong… ngambil2 dikit untuk pengajaran klinik di kedepannya.
    inspiring others, right🙂 thank you., wassalam…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s