OBJECTIVE STRUCTURE CLINICAL EXAMINATION (OSCE)

Pendahuluan
Penerapan kurikulum berbasis kompetensi (KBK), maka seorang lulusan dokter harus memiliki kompetensi yang sudah ditetapkan. Seorang lulusan pendidikan kedokteran harus mampu menunjukkan ketrampilan kliniknya di dunia kerja. Oleh karena itu, untuk memastikan bahwa seorang lulusan dokter tersebut telah memiliki kompetensi klinik maka diperlukan suatu penilaian untuk mengukur kompetensi tersebut. Miller (1990) mengemukakan ada empat level penilaian ketrampilan klinik yang terdiri dari Knows, Knows how, Shows how dan does. Penilaian ketrampilan klinik selama ini umumnya menilai pada level knows dan knows how. Penilaian pada level ini tidak bisa memastikan kompetensi yang dimiliki seorang dokter. Penilaian ketrampilan klinik sampai tingkat shows how dan does perlu dilakukan. Penilaian yang sesuai dengan konsep Miller dapat dilihat dibawah ini.

Association for Medical Education in Europe (AMEE) merekomendasikan untuk penilaian learning outcome kompetensi seperti pada tabel di bawah ini. Dari tabel tersebut terlihat bahwa OSCE dapat menilai clinical skills, practical procedures, patient investigation, patient management, health promotion and disease prevention, communication, information management, principles of social, basic and clinical skills; attitudes, ethics and legal responsibilities; decision making; clinical reasoning and judgement; role as a professional dan personal development.

OSCE adalah Alat untuk menilai komponen kompetensi klinik seperti history taking, pemeriksaan fisik, procedural skill, ketrampilan komunikasi, interpretasi hasil lab, managemen dan lain-lain yang diuji menggunakan checklist yang telah disetujui dan mahasiswa akan mengikuti beberapa station. OSCE pertama kali dikenalkan oleh Harden dari Universitas Dundee. OSCE pertama kali diadopsi oleh Amerika Utara dan lalu berkembang di UK secara luas pada tahun 1990. OSCE sekarang ini digunakan untuk menilai ketrampilan klinik di fakultas kedokteran dan sertifikasi dokter di USA, Canada, UK, Australia, New Zealand, dan negara lain.

Validitas dan reliabilitas
Jumlah station dan lama waktu merupakan hal utama yang mempengaruhi reliabilitas OSCE disamping pengaruh standar pasien, penilaian pribadi, staf yang tidak terorganisasi dan ruangan yang ribut. Semakin banyak station yang dilakukan maka semakin tinggi reliabilitas dan juga konten validitas dari OSCE. Objektifitas OSCE dilakukan dengan penerapan ketrampilan klinik yang sudah distandarkan dan penggunaan checklist penilaian. Penelitian Carraccio dan Englander di University of Maryland School of Medicine menemukan bahwa OSCE valid dan reliabel untuk menilai kompetensi dokter. Penelitian Sloan et al pada residen bedah juga menemukan bahwa OSCE valid dan reliable.
Penggunaan OSCE
OSCE dapat digunakan sebagai penilaian formatif untuk memberikan feedback dalam rangka meningkatkan ketrampilan klinik mahasiswa. OSCE juga dapat digunakan sebagai penilaian sumatif untuk menentukan kelulusan seorang mahasiswa terhadap kompetensi klinik yang telah ditentukan.

Perancangan OSCE
Langkah-langkah untuk merancang OSCE :
1. Penentuan komponen kompetensi klinik yang akan diujikan.
Penentuan jenis ketrampilan yang akan diujikan tergantung dari learning outcome course. Komponen kompetensi klinik yang sering diujikan secara garis besar meliputi history taking, pemeriksaan fisik, ketrampilan prosedural, konseling, management, interpretasi hasil laboratorium dan radiograf. Blue Print sangat membantu dalam memilih dan merncanakan jenis ketrampilan yang akan diujikan. Pembuatan Blue print ini dapat dilakukan oleh tim atau individu yang berhubungan dengan learning objective course ini.
2. Penentuan waktu station
Penentuan waktu tiap station dipengaruhi oleh kompleksitas ketrampilan yang akan diujikan. Waktu yang sering dipilih berkisar antara 4 – 15 menit dan rata-rata yang sering diterapkan adalah 5 menit.
3. Penentuan jumlah station yang terlibat
Penentuan jumlah station yang terlibat tidak ada ketentuan yang pasti. Semakin banyak jumlah station maka semakin tinggi reliabilitas OSCE (Petrusa 2002, cit …). Schumway dan Harden (2003) menyatakan bahwa untuk memenuhi minimal realibitas diperlukan minimal 20 station. Akan tetapi penerapan OSCE di Kanada untuk high stake tidak menunjukkan penurunan reliabilitas ketika menggunakan hanya 12 station. (D Blacmore,personal communication, 2004). Berdasarkan hal di atas maka perlu dipertimbangkan feasibilitas maka penerapan OSCE dengan 25 station tidak feasible sehingga penerapan OSCE dengan 10-12 station dapat diterima.
4. Penentuan Standar setting
Penentuan standar setting untuk memutuskan nilai cut off sesorang mahasiswa lulus atau tidak lulus dapat menggunakan criterion reference.

5. Penentuan standar pasien (Resource Requirements )
Penggunaan standar pasien dalam OSCE dapat meningkatkan reliabilitas. Standar pasien ini merupakan orang sehat yang dilatih untuk memerankan keadaan pasien sesuai dengan skenario yang akan diujikan. Perekrutan SP ini dapat dilakukan dari karyawan institusi itus endiri atau dari luar institusi.
6. logistik
7. Penentuan tim penguji
Tim penguji dipilih berdasarkan keahliannya untuk masing-masing station. Penyediaan tim penguji cadangan perlu dilakukan untuk menghindari tim penguji yang sudah ditunjuk berhalangan hadir.
8. Biaya. OSCE memerlukan biaya yang diperlukan untuk honor standar pasien, penguji dan staf pendukung.

9. Post exam review

18 thoughts on “OBJECTIVE STRUCTURE CLINICAL EXAMINATION (OSCE)

  1. saya staf clinical skill program fk upn, saya mau bertanya bagaimana cara menentukan mahasiswa harus mengulang seluruh stasion atau mengulang hanya station yang jatuh

  2. Menurut saya apabila mahasiswa hanya tidak lulus pada satu station , mahasiswa tersebut perlu mengulang pada satu station yang tidak lulus tersebut. Hal ini sesuai dengan konsep OSCE di mana station – station yang ada tersebut bersifat discrit (ketrampilan antar satu station dengan yang lain tidak berhubungan). Sehingga apabila mahasiswa sudah lulus beberapa station tetapi ada satu station maka ia mengulang untuk station yang tidak lulus tersebut. Dan hendaknya dalam menmentukan kelulusan dengan memakai penilaian acuan patokan , bukan PAN (penialaian acuan normatif).

  3. Saya mahasiswa kedokteran yang sedang mengikuti persiapan menuju klinik, dan dalam waktu dekat akan mengikuti OSCE test sebagai syarat untuk masuk ke klinik. Saya mau bertanya apakah ada ketentuan station apa saja yang harus diujikan? Apakah bila hanya diuji 20 station, maka hanya materi dari 20 station saja yang dipelajari? Sebab saya mempelajari banyak sekali cek list, namun tidak semuanya diujikan, apakah kami perlu mengetahui station apa saja yang diujikan?

  4. maaf nich om. saya koas RSPAD. bagaimana jika saya ingin mempublikasikan hasil peneliitian atau referat saya, syarat apa yang harus ada dalam tulisan saya.

  5. @ali
    Jika ingin mempublikasikan hasil peneliitian atau referat ke suatu majalah jurnal kita harus mengikuti syarat dari jurnal tersebut. Dan biasanya beda-beda tiap jurnal/majalah

  6. Pak Zul, saya pernah menjadi fasilitator ujian OSCE di fakultas saya. Dalam ujian tersebut terdiri dari beberapa station. Tiap station mempunyai waktu yang berbeda-beda, dan mahasiswa sering kali tidak dapat menyelesaikan seluruh checklist di station tersebut. apakah waktu di statio tsb erlu ditinjau ulang atau checklistnya erlu disederhanakan? kapan sebaiknya kita memberikan feedback ujian OSCE pada mahasiswa? trima kasih.

  7. @Zwasta
    -manajemen station yang memiliki waktu berbeda-beda perlu dilakukan dengan membuat tanda bel yang berbeda
    – Agar mahasiswa cukup waktu maka lakukan dulu simulasi sebelum station itu diujikan
    – Checklist untuk ujian OSCE dapat lebih disederhanakan bila checlist untuk belajar terlalu panjang
    – Feedback ujian OSCE bisa dilakukan setelah mahasiswa selesai ujian OSCE, tentu saja para observer harus menulis lembar feedback untuk masing-masing mahasiswa secara singkat, agar jangan lupa

  8. Saya Hanna, staf Clinical Skills.
    Saya mau bertanya, bagaimana cara membuat checklist yang terstandarisasi, sehingga valid dalam penilaian. Karena dalam satu keterampilan masing-masing point memiliki bobot yang berbeda.
    Jadi bagaimana membagi bobot keterampilan tersebut?
    Apakah bisa diberi contoh?
    Terimakasih dok atas bantuannya.

  9. @Hanna Windy
    Agar valid maka membuat checklist harus sesuai referensi buku skill yang diaukui, sehingga nantinya benar-benar mengukur apa yang akan diukur
    Memberi bobot terhadap item checlist boleh dilakukan, misalnya untuk item kritikal point diberi bobot 2 sedangkan item lain cukup 1 saja, lalu nanti dijumlahkan dan dibagi dengan jumlah item (berarti yang dibobot 2 = 2 item)

  10. Saya Riyanda Mahasiswa dari FK swasta di medan
    Saat saya menulis ini, saya esok harinya mengikuti OSCE.
    Saya ingin bertanya, Apakah pada OSCE kita harus menyebutkan semua CHECK LIST yang ada pada latihan?
    Kemudian apakah pada saat kita melakukan gereakan (dalam ujian) kita juga harus sambil berbicara menyebutkan kata-kata yang ada pada cheklist tersebut?

    itu saja dokter.
    TERIMA KASIH atas perhatiannya.

  11. @Riyanda
    Ya sebaiknya dalam melakukannya sambil mengucapkan kata-kata yg ada di checlist, sehingga kita melakukannya terarah dan penilai yakin anda mengetahui checklist yg akan dilakukan,paham dan mampu melakukannya. Kalau tidak dikatakan takutnya bgn skill yang telah kita lakukan luput dari pengamatan penilai, karena bgn/komponen skill tsb ada yang cuma beberapa detik sehingga sulit diamati.

  12. baik dok…
    terima kasih…
    saya sudah selesai skill lab dok…

    alhamdulliah tidak ditemukan kendala yang berarti…
    hanya salah saat menyebutkan 1/3 lateral SIAS (saya sebutkan 1/3 SIAS saja, lateral lupa)
    itu aja dok…

    terima kasih sarannya dok….

  13. Pak zul,,saya mahasiswi yg sedang menyusun skripsi tentang faktor2 yg mempengaruhi keberhasilan mahasiswa dalam ujian OSCE.saya kesulitan mencari referensi yang mengenai faktor2 tsb baik itu jurnal atau buku.sebenarnya ada tidak sih faktor yg mempengaruhi OSCE?klo boleh tau apa saja??

  14. @ikah
    osce merupakan salah satu bentuk ujian ketrampilan yang berbentuk show how. oleh karena itu faktor yg mempengaruhinya bisa anda cari dlm topik assesment skill in medical education. kalau menurut yg saya lihat di lapangan bisa kita bagi 2, yaitu dari internal dan dari eksternal.

  15. Asslmkm,dr Zulharman,bagaimana kalo membuat forum Clinical Skill Laboratory di mailist dr.Zulharman.Agar diskusinya hanya clinical skill laboratory saja dr.Zulharman.

  16. asalamualaikum dr zulharman. saya ,mencari buku mengenai self assessment dan peer assessment tapi saya lum mendapatkan. apakah bapak sudah menerbitkan buku mengenai self assessment d daerah banduna?? terima kasih sebelumnya> mohon bantuanya untuk memperlancar skripsi saya

  17. maaf pak, saya kesulitan dalam mencari sumber pustaka mengenai OSCE baik itu jurnal maupun lainnya, apakah bapak bersedia mencantumkan daftar pustaka dari tulisan yang bapak buat? jadi saya ada tugas untuk mencari bagaimana mengechek validitas dan realible dari osce untuk peningkatan kualitas pendidkan apakah bapak ada saran, apa kata kunci yang harus saya pilih? terimakasih, sekali lagi maaf mengganggu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s