Refleksi diri dari seminar proposal penelitian

REFLECTION

Akhirnya hari ini saya telah melakukan seminar proposal untuk penelitian saya di S2 IPK FK UGM. Ternyata banyak masukan yang saya terima baik dari dosen penguji, dosen pembimbing dan teman-teman S2 IPK. Memang dari semula saya telah berencana agar dalam seminar proposal ini saya benar-benar diberi masukan, saran yang banyak dari mereka semua sehingga saya dalam mempresentasikannya banyak membuka peluang untuk dikritik, diberi masukan dan saran perbaikan. Pokoknya kalo lagi masih seminar proposal biar saja dikritik dan didebat habis-habisan, daripada kalo didebatnya pas lagi seminar hasil, wah kan gawat.

Beberapa masukkan yang saya terima seperti :

  1. Latar belakang masalah. Nah ini yang sering membuat rencana proposal penelitian jadi mentah lagi. Ternyata membuat latar belakang masalah penelitian untuk penelitian yang agak menjurus ke penelitian sosial susah juga. “Kesenjangan-kesejangan apa sih sehingga topik penelitian ini layak diangkat? ” Pertanyaan ini sering ditanyakan. “Kenapa hanya salah satu atau dua faktor tersebut yang anda angkat?”Nah ini juga sering juga ditanyakan. Umumnya pertanyaan ini muncul untuk penelitian kuantitatif yang menggunakan korelasi. Jadi kesimpulannya dalam latar belakang masalah ini harus dapat menceritakan alasan masalah yang diangkat, meliputi cerita tentang kesenjangan atau tidak kesesuaian antara teori dan praktek; antara apa yang ingin diharapkan dengan yang terjadi.
  2. Perumusan masalah
  3. Tujuan penelitian
  4. Keaslian penelitian
  5. Instrumen penelitian yang berupa kuesioner atau skala. Nah ini juga membuat binggung juga. Apalagi instrumen yang mau digunakan merupakan adaptasi dari instrumen luar negeri. Ternyata ada persyaratan untuk proses adaptasinya, dari menterjemah bolak balik sampai minta izin pembuat kuesioner atau skala tersebut. Yang susahnya kalo tuh pembuat instrumen tidak ada alamat korespondensinya, wah tobat deh. Lebih baik buat instrumen sendiri, tapi ya harus belajar cara membuat instrumen yang benar. Kelihatannya kalo instrumennya kita buat sendiri kita dapat menjawab proses pembuatan instrumen tersebut. Tapi kalo dari luar ya susah karena jarang ada info pembuatan instrumennya.

PLANNING FOR IMPROVEMENT

1. Mempelajari cara membuat Kuesioner yang benar sehingga valid dan reliable.

2. Perbaiki kesalahan-kesalahan tulisan dari proposal

4 thoughts on “Refleksi diri dari seminar proposal penelitian

  1. Assalamu’alaikum dr.zulharman. Perkenalkan nama saya zwasta. saya baru pertama kali lihat blog dr.zul dan tertarik dengan apa yang saudara sampaikan (baca=berbagi ilmu) tentang pendidikan kedokteran. Mungkin dr.zul bisa kasih info literatur/artikel bagaimana membuat (metodologi)penelitian pendidikan kedokteran, yang saat ini sepertinya belum banyak hasil penelitian pendidikan kedokteran di Indonesia. Terima kasih banyak sebelumnya. Wassalamu’alikum Wr.Wb.

  2. @zwasta
    Wa’allaikum salam W.W.
    Untuk mempelajari (metodologi)penelitian pendidikan kedokteran, saya biasanya mempelajari lewat jurnal-jurnal medical education, medical teacher. Jurnal-jurnal ini memang khusus membahas penelitian pendidikan kedokteran. Coba lihat contoh judulnya disamping kiri.

    Untuk metode penelitiannya sama seperti penelitian pada umumnya. Penelitian kuantitatif biasnya menggunakan kuesioner dan bertujuan untuk menguji hipotesi hubungan atau komparatif. Penelitian kualitatif lebih enak untuk meneliti hal-hal baru dalam masalah pendidikan kedokteran. Misalnya Penelitian fenomena tutor dalam PBL.

  3. AssWrWb. Pak Zul, apakah bapak punya literatur institusi pendidikan kedokteran di Indonesia yang menggunakan kuesioner DREEM di fakultas kedokterannya, mengingat kuesioner tersebut memakai bahasa inggris dan belum diterjemahkan ke bahasa indonesia. Bagaimana kita menggunakan kuesioner bahasa asing untuk diterapkan kepada mahasiswa indonesia agar isi kuesioner tidak berubah. BTK atas penjelasannya.

  4. Wss,
    Saya ngak punya tapi teman saya ada namun ia sedang s2 di ausie
    Untuk prosedur terjemah :
    1. 2 orang yang tahu kontek dan fasih bahasa inggris (TOEFL=600) diminta untuk menterjemah ke dalam bahasa Indonesia
    2. Setelah itu hasil terjemahan bahasa Indonesia tersebut diterjemahkan kembali ke bahasa Inggris oleh orang yang bahasa Inggrisnya bagus dan tidak mengetahui kontek kuesioner (back translation)
    3. Bila hasil back translation sudah sama, maka hasil terjemahan tersebut dapat diterima.
    4. Lakukan uji lapangan sebelum kuesioner tsbut diujikan, dan hitung nilai reliabilitasnya.
    sekian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s