Model tentang kemandirian belajar siswa dan peran Guru

Grow (1991) menampilkan model SSDL merupakan urutan yang berkelanjutan dari peningkatan kontrol pelajar dan pengurangan kontrol guru sehingga peran pelajar dari tergantung menjadi mandiri.

Stage 1. Pelajar dengan kemandirian rendah (Learner of Low Self Direction) Pelajar dengan kemandirian rendah atau tergantung memerlukan bimbingan dan arahan dari gurunya. Peran guru disini sebagai Authority/coach yang bertujuan untuk meningkatkan kontrol pelajar tehadap pelajarannya. Strategi belajar yang cocok untuk pelajar pada stage ini adalah kuliah yang menekankan pada isi kuliah, terstruktur, tugas yang spesifik dan jelas.

Stage 2. Pelajar dengan kemandirian sedang (Learners of Moderate Self Direction) Pelajar pada stage ini merupakan pelajar yang memiliki motivasi. Mereka lebih memiliki kepercayaan diri dan lebih tertarik untuk belajar daripada pelajar stage 1. Mereka kadangkala menolak materi pelajaran yang diberikan guru karena mereka tidak ditunjukkan kegunaan dari yang dipelajari untuk kelanjutan kariinya. Peran guru disini adalah sebagai motivator/guide. Mereka seharusnya memberikan penjelasan yang jelas mengenai pentingnya hal-hal yang dipelajari ini untuk hidup pelajarnya. Peran guru disini pemnting dalam mendukung agar pelajar mampu menyusun tujuan belajar yang realistik dan dapat dicapai serta mengawasi mereka dalam mencapai tujuan belajar dalam rangka mengurangi ketergantungan dan meningkatkan kemandirian pelajar.

 Stage 3. Pelajar dengan Kemandirian Intermediate (Learners of Intermediate Self Direction) Pelajar pada stage ke tiga ini telah memiliki pengetahuan dan ketrampilan awal untuk mempelajari suatu hal. Mereka telah siap untuk belajar dibawah petunjuk guru, tetapi juga siap untuk belajar atas kemauannnya sendiri. Mereka telah memiliki konsep diri yang baik, kepercayaan diri dan kemampuan untuk bekerjasama dengan orang lain, tetapi masih membutuhkan pengembangan lebih jauh untuk mengurangi ketergantungan mereka kepada guru. Peran guru disini adalah sebagai fasilitator yang berbagi membuat keputusan bersama pelajar, dan memberi kesempatan pelajar untuk meningkatkan kontrol belajarnya.

Stage 4. Pelajar dengan kemandirian tinggi (Learners of High Self Direction) Pelajar pada stage ini mampu menyusun tujuan dan standat belajar dengan atau tanpa bantuan ahli, institusi atau sumberdaya lain untuk meraih tujuannya. Mereka telah sadar dan mampu bertanggung jawab terhadap proses belajar. Mereka telah memiliki kemampuan dalam manajemen waktu, menyusun tujuan belajar, evaluasi diri, peer kritik, pencarian informasi dan menggunakan sumber belajar. Peran guru disini sebagai konsultan/delegasi.

Iklan

Ruang Tutorial PBL : Perlu direformasi

Saya mencoba berselancar untuk mencari ruang tutorial PBL yang oke punya.
Alasannya mengapa ruang tutorial PBL harus mantap karena dominannya pendekatan tutorial PBL dalam kurikulum KBK sehingga dengan suasana ruang tutorial yang nyaman akan mendukung proses belajar.

4513pbl

Gambar ini saya ambil dari      http://www.une.edu.au/rural-medicine/photogallery.php

Kapan ya kita bisa seperti ini? Atau Apakah ruang tutorial PBL di FK Anda sudah seperti ini?

Best Evidence Medical Education (BEME),Pendidikan Kedokteran berbasis bukti

Apakah   Best Evidence Medical Education (BEME) ?

“Best Evidence Medical Education (BEME) is the implementation, by teachers in their practice, of methods and approaches to education based on the best evidence available.” (Harden, 1999)

Pendidikan Kedokteran berbasis bukti adalah penerapan  pendekatan dan metode  pembelajaran oleh pengajar dalam proses pendidikan kedokteran berdasarkan bukti-bukti ilmiah terbaik yang ada.

Mengapa harus BEME?

Perlunya perubahan paradigma pengembangan  pendidikan kedokteran dari berbasis opini ke arah berbasis bukti-bukti penelitian di bidang pendidikan kedokteran. Hal ini didasari karena selama ini pengembangan  pendidikan kedokteran lebih banyak berdasarkan opini atau retorika.Dengan BEME maka dalam penerapan suatu metode pembelajaran dapat dipertanggungjawabkan baik secara ilmiah maupun empiris.

Konsep BEME?

Dalam BEME, Institusi atau pengajar akan menerapkan pendekatan dan metode  pembelajaran  berdasarkan bukti-bukti penelitian  ilmiah terbaik yang ada.

Ada 6 hal untuk menilai  Evidence yang disingkat dengan QUESTS :

1. Quality : Bagaimana kualitas dari evidence tersebut?

2. Utility : Apakah sebuah metode yang akan diterapkan tersebut dapat diambil tanpa modifikasi?

3. Extent: Bagaimanakah ketersediaan dari evidencetersebut?

4. Strength:Bagaimana kekuatan evidence tersebut?

5. Target: Apakah tujuan? Apakah dapat diukur? Valid?

6. Setting: Bagaimanakah situasi atau kontek ? Relevansi?

Oleh karena  banyaknya hambatan dalam melakukan penelitian-penelitian pendidikan yang ada seperti kompleknya masalah, faktor-faktor lain yang mempengaruhi hasil penelitian, sulitnya memberi perlakuan kontrol dan blind maka dalam menilai bukti-bukti penelitian ini diperlukan profesional judgment dari Pengajar sehingga pengabungan profesional jugment ini dengan bukti-bukti penelitian yang ada akan menghasilkan sebuah keputusan yang sesuai dengan situasi ditempat masing-masing.

Kesimpulan

BEME akan membantu para Pengajar di  pendidikan kedokteran untuk membuat keputusan yang profesional,bertanggungjawab dan ilmiah dalam penerapan suatu metode atau intervensi pembelajaran berdasarkan bukti-bukti penelitian  ilmiah terbaik yang ada.

Referensi

Harden R M, Grant J, Buckley G and Hart I R (1999) BEME Guide No 1: Best Evidence

Medical Education. Medical Teacher 21, 6, pp 553-562

http://www.medev.ac.uk/resources/features/AMEE_summaries/BEME1.pdf.

Membuat skenario untuk PBL

Skenario dalam Problem based learning merupakan inti dari suksesnya kegiatan PBL. Hal ini karena skenario merupakan titik tolak proses pembelajaran. Skenario dapat disajikan dalam bentuk teks atau dalam bentuk video. Skenario yang baik adalah skenario yang dapat mengakomodasi semua tujuan pembelajaran modul, singkat dan jelas, memacu keingintahuan lebih dalam dan sesuai realita yang akan dihadapi dokter sehari-hari.

Internet sebagai gudang informasi dapat kita jadikan rujukan untuk membuat skenario.

Untuk mengembangkan skenario berbasis teks yang nyata , dapat kita gunakan pertanyaan – pertanyaan yang ada di forum-forum diskusi kesehatan.

Misalnya : Kita ambil dari www.iwandarmansjah.web.id dan http://cakmoki86.wordpress.com/tanya-jawab/

Nah untuk skenario berbasis audio video mungkin kita dapat mencarinya di http://www.youtube.com/

Tentunya sumber-sumber di atas masih perlu diedit agar sesuai tujuan pembelajaran. Tapi yang pasti skenario ini benar-benar real dan akan ditemui oleh dokter umum ketika praktek.

Viva Medica

RENCANA PROGRAM PENGEMBANGAN STAF EDUKASI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU DALAM RANGKA PELAKSANAAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (2)

Catatan : Ini adalah lanjutan tulisan saya yang pertama tentang staff development. Berhubungan mungkin diusulkan maka tetap menggunakan FK Unri sebagai nama FK. Format dalam PDF, InsyaAllah menyusul.

Zulharman

Mahasiswa S2 Ilmu Pendidikan Kedokteran FK UGM

PENDAHULUAN

Penerapan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dengan strategi pendekatan problem based learning (PBL) merupakan sebuah inovasi pendidikan kedokteran yang sedang dikembangkan di Indonesia. Fakultas kedokteran universitas Riau (FK Unri) telah memulai menerapkan kurikulum ini pada tahun ajaran 2007. Sumber daya manusia khususnya staf edukasi merupakan salah satu komponen utama dalam penerapan kurikulum ini, dimana peran dan tugas mereka ada yang mengalami perubahan sedikit atau bahkan perubahan total. Oleh karena itu, agar penerapan kurikulum baru ini berjalan lancar maka diperlukan pelatihan dan pengembangan staf.

ISI

Untuk mengetahui kebutuhan pengembangan staf yang diperlukan dalam penerapan KBK maka dilakukan analisa kebutuhan (need assessment) dengan cara identifikasi peran yang dibutuhkan untuk pelaksanaan KBK (telah diidentifikasi di assignment week 1). Pendekatan pengelompokkan peran berdasarkan peran dosen dalam pengembangan kurikulum, pengembangan teaching & learning, pengembangan learning resources, pengembangan assessment serta operasional kegiatan dalam situasi di skill laboratorium, Blok (PBL), laboratorium Biomedis dan rotasi klinik (clinical rotation) dilakukan untuk memudahkan proses identifikasi. Setelah peran-peran ini diidentifikasi, maka selanjutnya disusunlah rencana pengembangan staf ini melalui beberapa metode sebagai berikut :

1. Workshop

Workshop merupakan bentuk pengembangan staf yang paling sering diterapkan. Workshop dilaksanakan selama antara dua sampai tiga hari. Workshop ini akan disampaikan melalui format kuliah didaktif, role play,working group, presentasi, diskusi interaktif serta refleksi.

2. Self directed learning

Metode ini adalah metode belajar mandiri, dimana kegiatan berawal dari tanggung jawab seorang staf untuk meningkatkan kompetensinya sehingga ia akan menyusun kebutuhan belajarnya, menentukan tujuan, menentukan sumber belajar dan menilai hasil belajarnya sendiri. Self reflection, evaluasi dari pelajar dan peer feedback merupakan komponen utama yang akan mendorong seseorang untuk meningkatkan kompetensinya. Metode ini akan berhubungan erat dengan E-learning dan work based learning.

3. Elektronik learning (e-learning)

Penggunaan teknologi informasi sebagai sumber belajar dalam metode SDL ini akan menambah efektifitas dan efisiensi. Teknologi informasi yang akan diterapkan untuk mendukung SDL yaitu Course management system (CMS) / sistem manajemen kursus dan computer based training.

a. Course management system adalah sebuah software yang mampu memanajemen proses pembelajaran/kursus online seperti menyimpan, mengelola dan mendistribusikan berbagai informasi pelatihan seperti material pelatihan, jadwal pelatihan mandiri, self assessment . Course management system yang akan diterapkan di FK Unri untuk faculty development adalah CMS yang bersifat free atau tidak diperlukan dana untuk membeli software CMS tersebut. Moodle merupakan contoh CMS gratis yang dapat dipakai. Selain gratis dan dapat dimodifikasi, Moodle mudah dipelajari dan mudah digunakan. Moodle telah teruji di berbagai institusi di banyak negara. Moodle digunakan di 150.000 institusi pada 160 negara dan telah diterjemahkan ke dalam 70 bahasa. Contoh pemakaian course management system sebagai alat pengembangan staf/SDM yaitu, PT. Garuda Indonesia Airways, Bank mandiri, merpati, Bank BNI.

b. Computer based training adalah penggunaan komputer sebagai media pelatihan. Untuk membedakan dengan CMS di atas, penulis memfokuskan yang dimaksud dengan CBT ini adalah penggunaan CD Interaktif dalam pelatihan secara mandiri. Dalam CD interaktif ini peserta pelatihan akan dibimbing secara tahap demi tahap dalam melatih suatu kompetensi tertentu. Sistematis dan runtutnya CD interaktif dalam memberikan arahan kepada peserta pelatihan memberikan keuntungan dalam mendukung SDL.

4. Magang

Metode magang dilaksanakan dengan menggirim staf edukasi ke institusi pendidikan kedokteran yang telah mapan dalam bidang tertentu.

5. Work Based Learning

Work based learning, adalah suatu metode atau proses belajar yang berhubungan dengan pekerjaan yang dijalani seseorang. Dalam kontek pekerjaan staf edukasi, work based learning merupakan suatu proses pembelajaran yang berdasarkan pengalaman praktek staf edukasi sehari-hari. Metode ini sangat sesuai dengan lingkungan pembelajaran staf edukasi di mana terdapat integrasi pembelajaran antara praktek dan teori serta staf edukasi dapat belajar sesuai kebutuhan mereka di tempat kerja. Prinsip pembelajaran ini adalah refleksi dan peningkatan. Portfolio digunakan sebagai format dan dokumentasi pembelajaran.

6. Mentorship

Mentorship merupakan metode yang sering ditemukan dalam pengembangan staf sehari-hari, namun penulis menemukan bahwa istilah mentorship ini masih jarang digunakan secara ekplisit. Seorang mentor dapat berperan sebagai role model, sponsor, guide, teacher, adviser, coach. Daloz (1986) memaparkan bahwa ada tiga elemen kunci dalam model mentorship yaitu support, challenge dan vision untuk pengembangan karir ke depan.

7. Formal Education.

Formal Education yang dimaksud disini adalah pendidikan dalam bidang ilmu pendidikan kedokteran (S2 Ilmu pendidikan kedokteran). Baca lebih lanjut