Penelitian II : Zotero, add on mozilla firefox yang wajib dimiliki untuk mencari literatur penelitian di internet

Kita mungkin mengandalkan internet sebagai sumber literatur untuk penelitian mengenai masalah pendidikan kedokteran yang akan kita lakukan. Dari pengalaman saya dahulu dalam mencari tinjauan pustaka di internet untuk bahan penelitian saya ternyata banyak referensi dari internet yang tidak teroganisir dengan baik setelah saya download. Ada referensi yang sama dua sampai empat kali saya simpan, ada referensi yang saya lupa alamat dan jam mengaksesnya. Hal ini tentu saja sangat merugikan dari segi waktu dan tenaga.

Setelah saya selesai penelitian tersebut, baru saya sadari bahwa web browser Mozilla Firefox memiliki add on yang handal dalam mengelola referensi atau literatur internet.

“Zotero [zoh-TAIR-oh] is a free, easy-to-use Firefox extension to help you collect, manage, and cite your research sources.” (https://addons.mozilla.org/en-US/firefox/addon/3504) Baca lebih lanjut

Penelitian I : Bagaimana mencari Topik masalah penelitian di bidang pengembangan pendidikan kedokteran

Perkembangan topik penelitian akhir-akhir ini mulai banyak dilirik mengenai pengembangan pendidikan kedokteran itu sendiri. Oleh karena topik ini menurut saya masih baru maka perlu mendapat perhatian.

Sebuah penelitian berangkat dari masalah. Masalah adalah kesenjangan antara harapan (das sollen) dan kenyataan (das sein). Masalah juga dapat diartikan kesenjangan antara yang seharusnya dengan yang ada atau terjadi. Masalah penelitian di bidang pengembangan pendidikan kedokteran dapat meliputi masalah yang ada dalam pengembangan kurikulum, masalah dalam penerapan suatu metode pembelajaran, masalah sarana dan prasarana pembelajaran, masalah sistem penilaian serta masalah yang ada dalam pengembangan pembelajaran di klinik. Dalam mencari masalah ini, saya menyarankan agar mahasiswa melakukan penelitian pendahuluan di lapangan untuk mencari kesenjangan atau masalah apa yang mau diangkat. Penelitian pendahuluan ini sangat bermanfaat dalam membantu menyusun kata-kata dalam latar belakang masalah. Latar belakang masalah yang berasal dari kesenjangan dari yang seharusnya dan perlu dicari solusi pemecahannya sangat perlu untuk diangkat menjadi topik penelitian. Hal yang perlu diingat bahwa masalah pengembangan pendidikan sangat komplek sehingga mengapa perlu diadakan studi pendahuluan untuk mengidentifikasi masalah-masalah dan lalu memfokuskan pada satu masalah dan merumuskannya menjadi topik penelitian yang layak diangkat. Dengan menggadakan studi pendahuluan juga dapat membantu dalam menjustifikasi betapa perlu dan bermanfaatnya hasil penelitian yang akan dilakukan, sehingga dosen pembimbing penelitian akan langsung menyetujui topik penelitian yang akan diajukan.

Studi pendahuluan dapat dilakukan dengan cara observasi langsung di lapangan, menggunakan kelompok diskusi terarah (FGD/Focus Group Discussion), studi literatur, wawancara mendalam, analisis konten dari dokumen-dokumen.

Contoh :

1. Penerapan KBK seharusnya mahasiswa memiliki prestasi belajar yang baik, namun setelah dilakukan studi pendahuluan, ternyata kok prestasi belajarnya malah menurun. Maka timbul pertanyaan faktor-faktor apakah yang menyebabkan kesenjangan ini terjadi.

2. Penerapan PBL seharusnya menghasilkan mahasiswa yang self directed learning, critical thingking dan self reflection. Namun setelah dilakukan evaluasi kok tidak nampak ya. Maka timbul masalah mengapa ini tidak sesuai dengan yang diharapkan, dan bagaimana pemecahannya.

(Bersambung…..)

Best Evidence Medical Education (BEME),Pendidikan Kedokteran berbasis bukti

Apakah   Best Evidence Medical Education (BEME) ?

“Best Evidence Medical Education (BEME) is the implementation, by teachers in their practice, of methods and approaches to education based on the best evidence available.” (Harden, 1999)

Pendidikan Kedokteran berbasis bukti adalah penerapan  pendekatan dan metode  pembelajaran oleh pengajar dalam proses pendidikan kedokteran berdasarkan bukti-bukti ilmiah terbaik yang ada.

Mengapa harus BEME?

Perlunya perubahan paradigma pengembangan  pendidikan kedokteran dari berbasis opini ke arah berbasis bukti-bukti penelitian di bidang pendidikan kedokteran. Hal ini didasari karena selama ini pengembangan  pendidikan kedokteran lebih banyak berdasarkan opini atau retorika.Dengan BEME maka dalam penerapan suatu metode pembelajaran dapat dipertanggungjawabkan baik secara ilmiah maupun empiris.

Konsep BEME?

Dalam BEME, Institusi atau pengajar akan menerapkan pendekatan dan metode  pembelajaran  berdasarkan bukti-bukti penelitian  ilmiah terbaik yang ada.

Ada 6 hal untuk menilai  Evidence yang disingkat dengan QUESTS :

1. Quality : Bagaimana kualitas dari evidence tersebut?

2. Utility : Apakah sebuah metode yang akan diterapkan tersebut dapat diambil tanpa modifikasi?

3. Extent: Bagaimanakah ketersediaan dari evidencetersebut?

4. Strength:Bagaimana kekuatan evidence tersebut?

5. Target: Apakah tujuan? Apakah dapat diukur? Valid?

6. Setting: Bagaimanakah situasi atau kontek ? Relevansi?

Oleh karena  banyaknya hambatan dalam melakukan penelitian-penelitian pendidikan yang ada seperti kompleknya masalah, faktor-faktor lain yang mempengaruhi hasil penelitian, sulitnya memberi perlakuan kontrol dan blind maka dalam menilai bukti-bukti penelitian ini diperlukan profesional judgment dari Pengajar sehingga pengabungan profesional jugment ini dengan bukti-bukti penelitian yang ada akan menghasilkan sebuah keputusan yang sesuai dengan situasi ditempat masing-masing.

Kesimpulan

BEME akan membantu para Pengajar di  pendidikan kedokteran untuk membuat keputusan yang profesional,bertanggungjawab dan ilmiah dalam penerapan suatu metode atau intervensi pembelajaran berdasarkan bukti-bukti penelitian  ilmiah terbaik yang ada.

Referensi

Harden R M, Grant J, Buckley G and Hart I R (1999) BEME Guide No 1: Best Evidence

Medical Education. Medical Teacher 21, 6, pp 553-562

http://www.medev.ac.uk/resources/features/AMEE_summaries/BEME1.pdf.

Refleksi diri dari seminar proposal penelitian

REFLECTION

Akhirnya hari ini saya telah melakukan seminar proposal untuk penelitian saya di S2 IPK FK UGM. Ternyata banyak masukan yang saya terima baik dari dosen penguji, dosen pembimbing dan teman-teman S2 IPK. Memang dari semula saya telah berencana agar dalam seminar proposal ini saya benar-benar diberi masukan, saran yang banyak dari mereka semua sehingga saya dalam mempresentasikannya banyak membuka peluang untuk dikritik, diberi masukan dan saran perbaikan. Pokoknya kalo lagi masih seminar proposal biar saja dikritik dan didebat habis-habisan, daripada kalo didebatnya pas lagi seminar hasil, wah kan gawat.

Beberapa masukkan yang saya terima seperti :

  1. Latar belakang masalah. Nah ini yang sering membuat rencana proposal penelitian jadi mentah lagi. Ternyata membuat latar belakang masalah penelitian untuk penelitian yang agak menjurus ke penelitian sosial susah juga. “Kesenjangan-kesejangan apa sih sehingga topik penelitian ini layak diangkat? ” Pertanyaan ini sering ditanyakan. “Kenapa hanya salah satu atau dua faktor tersebut yang anda angkat?”Nah ini juga sering juga ditanyakan. Umumnya pertanyaan ini muncul untuk penelitian kuantitatif yang menggunakan korelasi. Jadi kesimpulannya dalam latar belakang masalah ini harus dapat menceritakan alasan masalah yang diangkat, meliputi cerita tentang kesenjangan atau tidak kesesuaian antara teori dan praktek; antara apa yang ingin diharapkan dengan yang terjadi.
  2. Perumusan masalah
  3. Tujuan penelitian
  4. Keaslian penelitian
  5. Instrumen penelitian yang berupa kuesioner atau skala. Nah ini juga membuat binggung juga. Apalagi instrumen yang mau digunakan merupakan adaptasi dari instrumen luar negeri. Ternyata ada persyaratan untuk proses adaptasinya, dari menterjemah bolak balik sampai minta izin pembuat kuesioner atau skala tersebut. Yang susahnya kalo tuh pembuat instrumen tidak ada alamat korespondensinya, wah tobat deh. Lebih baik buat instrumen sendiri, tapi ya harus belajar cara membuat instrumen yang benar. Kelihatannya kalo instrumennya kita buat sendiri kita dapat menjawab proses pembuatan instrumen tersebut. Tapi kalo dari luar ya susah karena jarang ada info pembuatan instrumennya.

PLANNING FOR IMPROVEMENT

1. Mempelajari cara membuat Kuesioner yang benar sehingga valid dan reliable.

2. Perbaiki kesalahan-kesalahan tulisan dari proposal

PARADIGMA KE TIGA PENELITIAN DI BIDANG PENDIDIKAN

Penelitian Thesis sebagai tugas akhir di Master in Medical Education FK UGM, benar-benar membuat saya untuk mendalami metodologi penelitian di bidang pendidikan. Semula penelitian thesis saya akan menggunakan metode penelitian kwantitatif, ternyata pada akhirnya perlu ditambah dengan penelitian kualitatif sebagai penelitian komplementer.

Yang menarik setelah saya mencari literatur mengenai cara menggabungkan dua metode penelitian ini dalam satu tema penelitian ternyata saya menemukan sebuah artikel menarik tentang paradigma penelitian ke tiga yaitu penelitian campuran (mix research) atau ada juga yang menamakan penelitian kombinasi.

Kesimpulannya dalam artikel tersebut menyatakan ada tiga paradigma pendidikan :

  1. Paradigma Penelitian kwantitatif/ Positivist
  2. Paradigma Penelitian Kwalitatif/ Post positivist
  3. Paradigma Penelitian campuran/ campuran positivist dan post positivist

Menurut saya paradigma penelitian yang ketiga ini sangat menarik untuk dipelajari mengingat penelitian di bidang pendidikan khususnya pendidikan kedokteran sangat komplek sehingga diperlukan gabungan antara penelitian kwantitatif dan kwalitatif untuk saling melengkapi dan menghilangkan kelemahan bila hanya menggunakan satu pendekatan metode penelitian saja.