TEKNOLOGI PENDIDIKAN KEDOKTERAN

Menuju Dokter Bintang Lima Berkarakter Pancasila

Arsip untuk ‘Teaching and Learning Development’ Kategori

Best Evidence Medical Education (BEME),Pendidikan Kedokteran berbasis bukti

Posted by zulharman pada Desember 24, 2008

Apakah   Best Evidence Medical Education (BEME) ?

“Best Evidence Medical Education (BEME) is the implementation, by teachers in their practice, of methods and approaches to education based on the best evidence available.” (Harden, 1999)

Pendidikan Kedokteran berbasis bukti adalah penerapan  pendekatan dan metode  pembelajaran oleh pengajar dalam proses pendidikan kedokteran berdasarkan bukti-bukti ilmiah terbaik yang ada.

Mengapa harus BEME?

Perlunya perubahan paradigma pengembangan  pendidikan kedokteran dari berbasis opini ke arah berbasis bukti-bukti penelitian di bidang pendidikan kedokteran. Hal ini didasari karena selama ini pengembangan  pendidikan kedokteran lebih banyak berdasarkan opini atau retorika.Dengan BEME maka dalam penerapan suatu metode pembelajaran dapat dipertanggungjawabkan baik secara ilmiah maupun empiris.

Konsep BEME?

Dalam BEME, Institusi atau pengajar akan menerapkan pendekatan dan metode  pembelajaran  berdasarkan bukti-bukti penelitian  ilmiah terbaik yang ada.

Ada 6 hal untuk menilai  Evidence yang disingkat dengan QUESTS :

1. Quality : Bagaimana kualitas dari evidence tersebut?

2. Utility : Apakah sebuah metode yang akan diterapkan tersebut dapat diambil tanpa modifikasi?

3. Extent: Bagaimanakah ketersediaan dari evidencetersebut?

4. Strength:Bagaimana kekuatan evidence tersebut?

5. Target: Apakah tujuan? Apakah dapat diukur? Valid?

6. Setting: Bagaimanakah situasi atau kontek ? Relevansi?

Oleh karena  banyaknya hambatan dalam melakukan penelitian-penelitian pendidikan yang ada seperti kompleknya masalah, faktor-faktor lain yang mempengaruhi hasil penelitian, sulitnya memberi perlakuan kontrol dan blind maka dalam menilai bukti-bukti penelitian ini diperlukan profesional judgment dari Pengajar sehingga pengabungan profesional jugment ini dengan bukti-bukti penelitian yang ada akan menghasilkan sebuah keputusan yang sesuai dengan situasi ditempat masing-masing.

Kesimpulan

BEME akan membantu para Pengajar di  pendidikan kedokteran untuk membuat keputusan yang profesional,bertanggungjawab dan ilmiah dalam penerapan suatu metode atau intervensi pembelajaran berdasarkan bukti-bukti penelitian  ilmiah terbaik yang ada.

Referensi

Harden R M, Grant J, Buckley G and Hart I R (1999) BEME Guide No 1: Best Evidence

Medical Education. Medical Teacher 21, 6, pp 553-562

http://www.medev.ac.uk/resources/features/AMEE_summaries/BEME1.pdf.

Ditulis dalam Problem Based Learning, Quality assurance, Research, Teaching and Learning Development | Leave a Comment »

Membuat skenario untuk PBL

Posted by zulharman pada Agustus 20, 2008

Skenario dalam Problem based learning merupakan inti dari suksesnya kegiatan PBL. Hal ini karena skenario merupakan titik tolak proses pembelajaran. Skenario dapat disajikan dalam bentuk teks atau dalam bentuk video. Skenario yang baik adalah skenario yang dapat mengakomodasi semua tujuan pembelajaran modul, singkat dan jelas, memacu keingintahuan lebih dalam dan sesuai realita yang akan dihadapi dokter sehari-hari.

Internet sebagai gudang informasi dapat kita jadikan rujukan untuk membuat skenario.

Untuk mengembangkan skenario berbasis teks yang nyata , dapat kita gunakan pertanyaan – pertanyaan yang ada di forum-forum diskusi kesehatan.

Misalnya : Kita ambil dari www.iwandarmansjah.web.id dan http://cakmoki86.wordpress.com/tanya-jawab/

Nah untuk skenario berbasis audio video mungkin kita dapat mencarinya di http://www.youtube.com/

Tentunya sumber-sumber di atas masih perlu diedit agar sesuai tujuan pembelajaran. Tapi yang pasti skenario ini benar-benar real dan akan ditemui oleh dokter umum ketika praktek.

Viva Medica

Ditulis dalam Curriculum Development, Problem Based Learning, Teaching and Learning Development | 2 Comments »

Self Directed Learning (SDL) / Belajar mandiri

Posted by zulharman pada Mei 14, 2008

Pengertian SDL bervariasi menurut pendapat beberapa pakar. Knowles (1975, disitasi oleh O’Shea, 2003) mendefinisikan SDL adalah sesuatu proses dimana seseorang memiliki inisiatif, dengan atau tanpa bantuan orang lain, untuk menganalisis kebutuhan belajarnya sendiri, merumuskan tujuan belajarnya sendiri, mengidentifikasi sumber–sumber belajar, memilih dan melaksanakan strategi belajar yang sesuai dan mengevaluasi hasil belajarnya sendiri. Merriam dan Caffarella (1991) mendefinisikan SDL adalah sesuatu metode belajar di mana pelajar mempunyai tanggung jawab yang utama dalam perencanaan, pelaksanakan dan penilaian hasil belajar.

Brockett dan Hiemstra (1991) mengemukakan beberapa pernyataan untuk meluruskan pandangan mengenai SDL yaitu, SDL bersifat kontinuitas, tidak benar SDL mengambarkan suatu proses belajar dalam isolasi, tidak benar SDL menghabiskan lebih banyak waktu daripada kegunaannya, dan tidak benar aktivitas SDL hanya terbatas pada membaca dan menulis.

Contoh Penerapan.

Beberapa waktu yang lalu saya mendiagnosa kebutuhan belajar saya untuk mencari tahu bagaimana cara melakukan adaptasi terhadap instrumen yang menggunakan bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Karena saya sudah butuh harus tahu cara adaptasi ini (kebutuhan untuk thesis), lalu saya menetapakan tujuan belajar saya yaitu, mengetahui cara adaptasi instrumen penelitian dari luar. Kemudian saya menyusun strategi belajar untuk mencapai tujuan belajar tersebut. Saya menentukan sumber belajar yaitu internet untuk mencari literatur yang berhubungan dengan cara adaptasi instrumen penelitian dari bahasa luar. Kemudian saya pelajari dengan seksama beberapa artikel yang saya temukan. Saya lakukan critical appraisal terhadap artikel ini. Akhirnya saya telah mengetahui cara adaptasi instrumen penelitian dari bahasa luar. Langkah akhirnya saya mengevaluasi hasil belajar saya tersebut. Untuk mengevaluasi ini saya butuh teman atau guru agar penilaian benar objektif.

Contoh penerapan dalam tutorial PBL

Belajar mandiri tidak hanya terdapat dalam langkah ke enam dari seven jumps. Belajar mandiri sudah dimulai dari langkah pertama dari seven jumps hingga sampai ke langkah tujuh.

Contoh penerapan belajar mandiri dalam pengerjaan skripsi

Belajar mandiri juga dapat dilihat dalam proses pelaksanaan pembuatan skripsi.

Daftar Referensi :

O’Shea, E. (2003) Self-directed learning in nurse education: a review of literature. Journal of Advanced Nursing, 43 (1), pp. 62-70.

Brockett, RG. & Hiemstra, R. (1991) Self Direction in Adult Learning: Perspectives on Theory, Research, and Practice. London and New York: Routledge

Ditulis dalam Teaching and Learning Development | 16 Comments »

BERBAGAI RANCANGAN METODE DAN DOKUMENTASI PEMBELAJARAN DALAM CONTINUING PROFESIONAL DEVELOPMENT (CPD)

Posted by zulharman pada Maret 4, 2008

Zulharman

Tulisan ini hanyalah sekedar usulan rancangan CPD dari hasil belajar penulis tentang pengembangan program CPD. Dalam tulisan ini penulis hanya memfokuskan menganalisa metode – metode pembelajaran CPD dan cara dokumentasinya dari berbagai literature yang membahas mengenai program CPD di beberapa negara. Apabila ada kritik,saran dan tanggapan, penulis sangat berterimakasih dan silahkan dikirim ke alamatemail : dr.zulharman@Gmail.com atau langsung melalui blog ini.

PENDAHULUAN

Programpendidikan dan pelatihan kedokteran berkelanjutan (PPPKB) atau istilah lainnyacontinuing professional development (CPD) adalah upaya pembinaan bersistem untuk mempertahankan, meningkatkan dan mengembangkan performance dokter agar ia
senantiasa dapat menjalankan profesinya dengan baik. PPPKB bukan hanya berperan dalam meningkatkan pengetahuan tetapi lebih untuk mempertahankan danmeningkatkan kompetensi yang bersangkutan sehingga tercermin dalam kinerjanya.
Oleh karena itu kredit yang dikumpulkan melalui kegiatan CPD seyogianya dapatmenjamin terselenggaranya pelayanan kedokteran yang bermutu, dan itu berarti mengacu kepada standar profesi yang bersangkutan.

Pengembanganprogram pendidikan dan pelatihan kedokteran berkelanjutan tidak sama dengan pengembangan kurikulum pendidikan dokter (undergraduate). Pengembangan program CPD yang terstruktur seringkali menemui hambatan di lapangan seperti perbedaan kebutuhan pengembangan performance antar dokter satu daerah dengan daerah lain, hambatan financial dan sarana komunikasi yang belum lancar. Program CPD konvensional seperti kuliah, seminar, kursus-kursus, simposium seringkali tidak efektif. Oleh karena itu pengembangan program CPD saat ini lebih menitikberatkan pada metode yang lansung ditemui oleh dokter di lapangan kerja seperti work based learning, practice based learning atau experiential learning dan dengan memperbaiki metode konvensional di atas sebagai variasi kegiatan PPPKB yang holistik.

Starke menerangkan bahwa untuk
mengembangkan program CPD yang efektif untuk revalidasi perlu diperhatikan
beberapa hal :

1. Program CPD mampu memenuhi semua kebutuhan peserta.

2. Tersedia dan dapat diikuti oleh semua dokter. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam CPD, Teaching and Learning Development | 3 Comments »

Lanjutan Analisa Area Kompetensi Pengelolaan Informasi

Posted by zulharman pada Februari 24, 2008

Lanjutan Analisa Area Kompetensi Pengelolaan Informasi

Zulharman

Artikel sebelumnya saya pernah membahas tentang area kompetensi dokter yang keenam yaitu Area Pengelolaan  Informasi .(lihat disini)

Nah sekarang saya ingin membahas untuk komponen kompetensi ini khusus untuk poin  6.5.2. Lulusan Dokter Mampu, yaitu

3.    Memanfaatkan informasi kesehatan

 

  • Memasukkan dan menemukan kembali informasi dan database dalam praktik kedokteran secara efisien
  • Menjawab pertanyaan yang terkait dengan praktek kedokteran dengan menganalisis arsipnya
  • Membuat dan menggunakan rekam medis untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan

Seiring dengan perkembangan teknologi komputerisasi khususnya dalam proses pemrosesan database, bentuk nyata seperti apakah yang mungkin diterapkan untuk memfasilitasi mahasiswa kedokteran untuk meraih kompetensi ini?

Berikut ini adalah bentuk fasilitasi yang mungkin diberikan : Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Curriculum Development, Teaching and Learning Development | 5 Comments »

Membangun pengetahuan secara kolaborasi

Posted by zulharman pada Februari 21, 2008

Kemarin saya mencoba membuat wiki sebagai tempat untuk membangun pengetahuan berdasarkan peran serta pengunjung internet. Web wiki ini dibuat berdasarkan wiki instant yang telah disediakan oleh wetpaint.com. Wiki ini saya tujukan untuk semua yang tertarik membangun pengetahuan seputar pengembangan pendidikan kedokteran. Silahkan berbagi ilmu sehingga bermanfaat bagi kita semua. Wah ternyata ada social constructivistnya nih web wiki ini.
Silahkan kunjungi sekarang juga http://pendidikan.wetpaint.com

Bersama Kita Bisa…… ( wis muncul juga semboyane, pinjam dulu ya pak semboyannya sambil mencari semboyan baru :)

Nah bagi mahasiswa kedokteran yang memiliki minat dengan wiki ini, bisa membuat dan bersama-sama membangun pengetahuan, tentu saja materinya bisa dibuat berdasrkan tema blok atau disiplin ilmu.

Ditulis dalam Teaching and Learning Development | Leave a Comment »

PENDAHULUAN : PROBLEM BASED LEARNING

Posted by zulharman pada Februari 15, 2008

zulharman

Problem Based Learning (PBL) ternyata memiliki daya tarik. Setelah beberapa lama saya memposting mengenai PBL di blog ini banyak tanggapan dari para pengunjung. Saya minta maaf kalau posting PBLnya singkat (soalnya lagi sibuk) dan menjawab comment dari pengunjung mungkin tidak memuaskan. Saya akan mencoba untuk memposting mengenai PBL ini dimulai dari pendahuluan yang akan menjelaskan prinsip dasar tentang PBL. InsyaAllah selanjutnya tentang cara merancang PBL dan terakhir cara mengevaluasi PBL. Mengikuti perkembangan comment tentang PBL di blog ini (terimakasih atas commentnya), saya ingin mencoba menyimpulkan hal-hal yang perlu atau sering ditanyakan.

1. PBL Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Problem Based Learning, Teaching and Learning Development | 8 Comments »

Log Book atau Portfolio?

Posted by zulharman pada Desember 4, 2007

Penerapan log book di pendidikan kedokteran semakin sering dilakukan. Contohnya penerapan log book di clinical rotation di mana mahasiswa koas diminta untuk membuat log book yang berisi perjalanan pengalaman belajar yang dialami mereka selama koas yang disusun secara kronologis.

Sedangkan penerapan portfolio sebagai strategi pembelajaran masih jarang dilakukan di pendidikan kedokteran Indonesia. Portfolio berisi koleksi eviden atau bukti hasil belajar dan refleksi dari pengalaman belajar yang telah dialami oleh mahasiswa sehingga ada unsur improvement nantinya. Selain sebagai strategi pembelajaran, portfolio dapat juga digunakan untuk alat penilaian formatif maupun sumatif. Sebagai alat penilaian formatif diharapkan portfolio dapat meningkatkan gairah belajar lebih lanjut melalui feedback yang diberikan oleh fasilitator (dosen). Sedangkan sebagai penilaian sumatif, portfolio merupakan bentuk penilaian yang sesuai dengan realitas sebenarnya atau performance (karena ada eviden dan proses, refleksi dan improvement dari pembelajaran). Menurut pyramid Miller, portfolio ini menilai pada tingkat “does”, sedangkan penilaian lain seperti OSCE berada pada tingkat dibawahnya yaitu “show how”, apalagi MCQ ada pada tingkat yang paling bawah yaitu “know”.

 Apa beda Portfolio dengan Log Book?

Bedanya portfolio lebih komplek dari log book. Portfolio berisi koleksi eviden atau bukti hasil belajar dan refleksi dari pengalaman belajar sehingga ada unsur improvement nantinya. Di dalam portfolio dapat berisi log book yang disertai reflection dan eviden. Sedangkan log book hanya berisi perjalanan pengalaman belajar yang disusun secara kronologis.

Kesimpulannya portfolio ada penekanan pada proses reflection dan eviden dari pengalaman belajar. Dan log book dapat merupakan bagian dari portfolio.

Penerapan Portfolio ke depan

Karena portfolio memiliki keunggulan dalam menilai proses dan hasil pembelajaran pada tingkat “does” sehingga portfolio ini tepat digunakan untuk sertifikasi dokter nantinya. Yang perlu diingat portfolio sebagai alat penilaian  sertifikasi jangan hanya berisi kumpulan eviden seperti sertifikat seminar, sertifikat pelatihan namun yang terpenting adalah proses reflection dan improvement-nya. (zulharman)

 

 

Ditulis dalam Teaching and Learning Development | 3 Comments »

CONTOH PEMBUATAN BUKU BLOK BERDASARKAN KOMPETENSI DOKTER

Posted by zulharman pada Agustus 18, 2007

Ini adalah contoh pembuatan buku blok reproduksi berdasarkan kemampuan yang harus dicapai oleh dokter yang ada dalam buku standar kompetensi dokter. Silahkan klik link ini. Semoga bermanfaat.

http://www4.webng.com/antibodi2002/contoh%20pembuatan%20buku%20blok.pdf

Ditulis dalam Problem Based Learning, Teaching and Learning Development | 7 Comments »

PROBLEM BASED LEARNING (PBL)

Posted by zulharman pada Juli 15, 2007

Perubahan paradigma pendidikan kedokteran dari pembelajaran yang berpusat pada teacher (Teacher centre learning) ke arah pembelajaran yang berpusat pada pelajar (student centre learning) dapat dilihat dari banyaknya Fakultas kedokteran di dunia maupun di Indonesia yang menerapkan PBL. Penerapan PBL ini ada yang mengaplikasikannya dalam kontek kurikulum sehingga disebut kurikulum PBL. PBL juga ada yang menerapkan sebagai sebuah metode pendidikan.

Problem Based Learning adalah proses pembelajaran yang titik awal pembelajaran berdasarkan masalah dalam kehidupan nyata dan lalu dari masalah ini mahasiswa dirangsang untuk mempelajari masalah ini berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang telah mereka punyai sebelumnya (prior knowledge) sehingga dari prior knowledge ini akan terbentuk pengetahuan dan pengalaman baru. Diskusi dengan menggunakan kelompok kecil merupakan poin utama dalam penerapan PBL.

Penerapan PBL di pendidikan kedokteran pertama kali di Mc Master University Canada pada dekade 1960 akhir. PBL berkembang dengan pesat hingga sampai juga di Indonesia.

Diskusi kelompok kecil dalam PBL dapat menggunakan metode seven jumps yang terdiri :

1. Identifikasi dan klarifikasi kata-kata sulit yang ada di dalam skenario. (sekretaris mencatat kata-kata yang masih belum dimengerti setelah didiskusikan)

2. Penentuan masalah. Setiap anggota memiliki bermacam perspektif masalah, akan tetapi harus dicari masalah yang disepakati bersama. (sekretaris mencatat daftar masalah yang telah disetujui).

3. Brainstorming. Anggota kelompok mendiskusikan dan menjelaskan masalah tersebut berdasarkan pengetahuan yang mereka miliki (prior knowledge). Identifikasi area pengetahuan yang kurang. (sekretaris menulis yang didiskusikan).

4. Berdasarkan langkah 2 dan 3 maka disusun penjelasan masalah dalam bentuk penjelasan sementara (tentative solution). (sekretaris mencatat penjelasan masalah sementara yang telah didiskusikan).

5. Penentuan Tujuan pembelajaran yang akan diraih. (Tutor mengarahkan agar tujuan pembelajaran fokus, dapat dicapai, komprehensip dan sesuai dengan yang diharapkan.)

6. Belajar mandiri. Mahasiswa belajar mandiri untuk mencari informasi yang berhubungan dengan tujuan pembelajaran.

7. Setiap anggota kelompok menjelaskan hasil belajar mandiri mereka dan saling berdiskusi. (Tutor menilai jalannya proses ini sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan).

Ditulis dalam Problem Based Learning, Teaching and Learning Development | 128 Comments »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.